Dia Yang Tak Mungkin Mengecewakan

Terkadang ada saatnya di mana kita ingin sendiri saja. Membiarkan segala keluh kesah dan amarah berkecamuk dalam dada. Terkadang adakalanya berbicara pada orang lain menjadi tiada guna. Sebab mereka tak selamanya paham apa yang kita harapkan dari kehadiran mereka. Hal yang lebih ironis lagi, yaitu ketika seseorang yang sudah kita percaya dan kita anggap mampu membantu justru berlaku hal yang sebaliknya.

Tak dapat dipungkiri ketika aku bercerita keluh kesahku kepadamu, hal yang aku harapkan selain kamu mendengarkan segala keresahan itu, kamu juga bisa menjadi seseorang yang mendukungku. Tetapi ketika ekspektasi sungguh berkebalikan terhadap realita yang kuperoleh; kamu semakin menyalahkanku, menjatuhkanku, menghina, bahkan merendahkanku akibat kesalahan-kesalahan itu, bukankah rasa sakitnya kini menjadi kian parah?

Aku seperti manusia lainnya, berbuat kesalahan juga. Tetapi ketika kuceritakan masalahku kepadamu, berarti aku telah mempercayaimu. Bisakah aku mendapat sedikit saja pembelaan? Bahkan jika kau anggap aku tak pantas menerimanya, bisakah kau hanya 'mendengarkan' saja? Tolong jangan menambah berat penyesalanku. Tolong jangan menjadikanku merasa menjadi manusia yang benar-benar bodoh dan menyesali semua dengan semakin menyalahkanku. Aku hanya butuh hadirmu, yang bisa kujadikan tempatku pulang setelah lelah dengan segala urusan yang membebani. Ketika kamupun sama seperti semua orang diluar sana, yang tak mampu memahamiku dan hanya mau menerima disaat baikku saja, lalu kemana lagi aku akan kembali ketika tak sanggup lagi berdiri?

Lambat laun kepercayaan rasanya kian mahal harganya. Tidak, aku bukan takut kamu menceritakan kisahku kepada orang lain di luar sana. Ini tentang kepercayaanku untuk 'berbagi kisah'ku kepadamu, lagi. Jika setelah kuceritakan, kau ternyata justru gagal menjadi seperti yang aku harapkan. Entah apakah aku percaya lagi untuk menyampaikan segalanya kepadamu.

Rasanya sungguh sakit ketika semua orang mendatangiku, berbondong-bondong memberikan tepuk tangan dan pujian disaat aku sedang berada pada titik maksimalku melakukan sesuatu yang memang menjadi keahlian dan bidangku. Tetapi ketika aku dihadapkan pada sesuatu yang tidak sejalan dengan itu, mereka akan meninggalkanku, beralih pada orang lain yang 'lebih mampu', lalu memandangiku dengan tatapan remeh. Bahkan setiap ucapanku hanya dianggap sebagai angin lalu. Ketika saat itu terjadi, aku mungkin akan merasa seperti semua orang berkata kepadaku "Diam saja dan dengarkan. Jangan banyak omong. Sebab kamu tidak ahli kali ini. Ada orang lain yang memiliki kemampuan lebih baik, dan kami akan benar-benar mendengarkannya". Namun aku lemah dan aku kalah. Aku bahkan tak bisa membela diri ketika hal itu terjadi. Memang bisa apa lagi? Bisa apa lagi selain menelan bulat-bulat perlakuan mereka yang menyakitkan ini?

Dari sinilah aku belajar banyak. Aku belajar bahwa kualitas diri yang menjadikanku dihargai oleh orang lain. Kamu bukan siapa-siapa ketika tak ada hal yang bisa dibanggakan darimu. Bahkan tinggi rendahnya sebuah harga diri juga ditentukan dari sini. Aku juga belajar untuk tidak pernah merendahkan orang lain dibawahku, apalagi ketika dia ingin mengutarakan pendapatnya tentang hal yang saat itu sedang aku kuasai. Memangnya siapa yang tau jika saat itu dia secara perlahan sedang mengembangkan potensi dirinya, kemudian di masa depan dia justru menjadi lebih baik daripada aku?

Jangan berbesar kepala ketika mereka memujimu saat ini. Dunia ini penuh dengan kepalsuan. Semua yang manusia lakukan pasti mengharapkan timbal balik yang baik bagi dirinya. Segala pujian bisa saja beralih menjadi makian. Kau yang dipuja dan dibesar-besarkan, bisa saja berubah menjadi penghinaan. Tidak ada yang abadi, apalagi untuk sifat manusia.

Hanya ada satu tempat pulang yang tak akan pernah mengecewakan, yaitu kepada yang menciptakan.

Sedikit Masa, Berjuta Cerita, Penuh Sandiwara

Setidaknya ada beberapa saat yang diberikan oleh Tuhan bagi kita untuk bersama.
Setidaknya pernah ada hari-hari yang kita isi dengan tawa
Walaupun kali ini tak ada luka yang tergores di dalam dada.
Namun rasasnya waktu singkat itu telah banyak merubah dunia kita.

Saat ini tak akan ada lagi yang biasa disebut sebagai “kita”.
Tak ada lagi abu-abu yang membumbung tinggi memenuhi dunia kecil milik kita
Tak ada lagi tanda tanya besar yang memerlukan jawaban
Tak akan ada lagi semilir angin yang membisikan kata-kata manis yang terselip diantaranya.

Mungkin yang terjadi akan sedikit berbeda
Atau mungkin justru menjadi sangat berbeda.
Sedikit takut merasup dan bertahta bersama raguku
Untuk melihat seperti apa esok dan hari-hari selanjutnya.

Mungkinkah kita masih bisa seperti sebelumnya?
Jauh sebelum ada ‘sesuatu’ yang diam-diam tersembunyi diantara kita.
Dulu ketika aku dan kamu tak pernah bersatu seperti hari ini.
Beberapa menit lalu, sebelum kita memutuskan untuk mengulang semua dari awal, lagi.

Tetapi aku tak yakin.
Jika yang terjadi akan demikian halnya.
Karena yang terjadi takkan mungkin bisa dilupakan
Tidak semudah itu, terutama jika pertemuan-pertemuan tak disengaja akan sangat mungkin mempertemukan kita.

Bisakah? Bisakah kita bersandiwara, lagi?
Kita dulu pernah menjadi actor dan aktris hebat.
Menyembunyikan apa yang ada dengan serapat-rapatnya.
Aku akui ini tidak mudah.
Tetapi nyatanya sandiwara itu bisa terjadi hingga beberapa saat.

Hingga akhirny aku tak mampu lagi menutupi semua.
Untuk apa kita berlaku seperti sepasang hati yang selalu ingin berdekatan
Tetapi dalam diam dan gelap yang mencekam
Selalu mawas ketika ada mata lainnya melirik, menatap.

Aku tak ingin lagi bersandiwara.
Aku sudah lelah, lelah sekali.
Aku tak ingin kita berperilaku palsu seperti itu.
Aku tak berharap hal ini bisa terus kita pertahankan.

Usaikan saja semuanya.
Jangan berpegang teguh pada sesuatu yang tak menjadikanmu nyaman.
Jangan sembunyi karena dunia akan tau kemudian.
Jangan pernah berlaku bodoh dengan membohongi hatimu seperti ini.

Terima Kasih, Kamu.

Terima kasih karena kamu hadir dalam hidupku...
Aku tak pernah menyangka kita bisa menjadi sedekat ini. Walaupun semua serba abu-abu, tanpa kejelasan seperti apa 'kita' sebenarnya. Tetapi selama bahagia selalu hadir, maka disitulah cinta telah merangkul kita.
Semua moment yang terlewati tak pernah luput dari tawa candamu yang selalu menghibur.
Senyumanmu berhasil menjadikanku tersenyum lebih lebar.
Entah mengapa aku selalu lupa dengan kisah-kisah sendu yang semula ku hadapi.
Asal bersamamu, aku lupa bagaimana rasanya sakit hati.
Asal ada kamu, aku lupa rasanya bersedih.


Terima kasih telah menyadarkanku bahwa tak semua pria sama.
Terima kasih untuk waktu yang kau beri disela-sela kesibukanmu.
Terima kasih telah menemaniku melewati malam dengan suaramu yang selalu membuatku rindu.
Terima kasih untuk selalu menepati janji.
Terima kasih selalu menjadi sosok setia yang mau mendengarkan cerita hidupku.
Terima kasih karena kamu berbeda.
Terima kasih karena aku diizinkan masuk dalam hidupmu.
Terima kasih telah memberi warna-warni dalam kisah kita
Terima kasih telah menyingkirkan kelam yang dulu sempat bersemayam lama di dalam hati ini.

Biarkan saja waktu yang memberi kejelasan tentang semua ini.
Biarkan hati pelan-pelan memahami.
Biarkan kisah kita bertambah seiring waktu terlewati.
Biarkan semua terjadi seperti yang seharusnya tertuliskan di dalam takdir yang sedang kita jalani.