Luka Lama

Entah mengapa setelah sekian lama waktu berlalu, tetapi sakit itu masih ada. Masih bisa aku rasakan secara nyata. Masih tertinggal di dalam sana, terbawa oleh perasaan yang tertutupi oleh pedihnya luka. Padahal semua terjadi sudah cukup lama, setahun yang lalu- bahkan sepertinya lebih dari itu. Tetapi sayangnya kapan tepatnya tak bisa lagi kuingat dalam memoriku. Mereka masih sering menanyakan tentang kamu. Mereka dengan polosnya masih sering membicarakan tentang dirimu. Entahlah setiap kali namamu disebut, perihnya luka lama terasa kembali terbuka. Tetapi aku tau, bahwa mereka tidak tau. Mereka tidak tau betapa aku ingin terus maju tanpa harus menengok masa lalu. Mereka tidak paham betapa susahnya aku menutup rapat segala hal yang pernah terjadi hanya untuk menyelamatkan hatiku. Sakit sekali rasanya. Waktu ternyata terlalu lemah untuk menghapus semua luka; apapun itu, tentang kamu yang tidak ingin lagi aku dengar kabarnya walau hanya sedikit saja. Kau tau rasanya? sungguh aku terluka begitu dalam. Seperti halnya memberikan seluruh yang kamu punya, tetapi lalu tak dihargai sedikitpun. Seperti diinjak-injak, lalu dibuang, tak bernilai. Tetapi entah siapa yang harus disalahkan. mungkin kamu? mungkin aku? mungkin mereka yang selalu menanyakan tentang kamu dan aku? mungkin waktu? mungkin masa lalu? atau mungkin takdir yang memberikan kisah pahit seperti ini terjadi? Bukan hanya mereka, tetapi naasnya diriku sendiri yang justru membuat luka itu kembali menganga. Pikiran ini terkadang melesatkan bayangan tentang sosok sederhana itu yang dulu bisa membuatku begitu bahagia, dengan segala kesederhanaan yang entah mengapa benar-benar terasa istimewa. Tetapi mungkin aku yang bodoh, yang terlalu banyak berharap kita untuk selamanya, seperti hari-hari lalu. Padahal sekarang? kita seperti tak pernah saling dekat, seperti hanya "sekedar" pernah akrab, tanpa ada sedikitpun makna. Satu hal yang pasti, semua sudah terlanjur terjadi. Kamu kini sudah menemukan bahagia yang lain, yang jelas lebih baik bagimu. Pantas saja jika aku dilupakan, karena tak bisa membuatmu sebahagia yang sekarang. aku tau aku lemah, bukan seperti mereka yang ada disekitarmu saat ini. tetapi tidak papa, biarkan segalanya menjadi pelajaran berharga.

SEMU, PALSU, BEKU


NILUH AYU MUTIARA ARIYANTI
17 February 2014

Hallo yang di sana. Kamu bukan manekin kan? Yang gak punya hati dan gak berperasaan. Apalagi untuk dikatakan sama dengan cadaver, jelas beda karena kamu bernyawa. Tapi kok gak pernah peka? Mau kode ini itu kok rasanya sama aja? Atau mungkin karena jalan pikiran kita yang berbeda? Apa karena kamu yang terlalu brilian? Tak pernah sempat atau sudi untuk sekedar menyempatkan waktu melihat sekitar karena sudah disibukkan dengan segala macam buku pelajaran?
Tapi bisakah aku meminjam sedikit kejeniusan yang kamu punya? Sedikit saja, sebab ada yang tidak aku paham. Jelaskan aku, jelaskan saja secara sederhana mengapa kamu selalu hadir dalam mimpiku? Sekali dua kali mungkin masih bisa aku mengerti. Tetapi ini? Entah sudah yang keberapa kali hal yang sama terjadi. Padahal tidak, aku tidak sedang memikirkanmu menjelang tidur. Tidak seperti itu.
Mengapa alam bawah sadarku memaksaku memikirkan tentangmu? Padahal aku tidak mau, karena aku sedang menjaga sesuatu yang sudah seharusnya aku jaga semampuku. Kamu tau apa itu? Aku sedang menjaga hatiku. Iya, menjaga hatiku agar tidak tersakiti lagi. Membiarkan luka lama pelan-pelan terobati sendiri. Bukan justru semakin melebar dan tak kunjung sembuh seperti ini. Sadar atau tidak, selama ini caramu yang selalu acuh dan memilih bungkam pelan-pelan berhasil menyayat hatiku. Perih sekali. Kamu tidak tau kan?
Kamu kok tega ya. Membiarkan aku merasakan kebahagiaan semu, jatuh cinta yang ternyata palsu, tersesat dalam hati yang beku. Atau mungkin ini justru kesalahanku? Yang sudi menunggu dan meraba-raba segala hal abu-abu, berharap yang seperti ini hanya sementara karena pelangi sedang menunggu diakhir segalanya?
Terkadang kekuatan sebuah harapan itu besarnya luar biasa. Tetapi sayangnya kenyataan yang ada didepan mata seringkali menampar lebih dahulu, sangat keras hingga tak lagi sempat berharap yang lainnya. Jelaslah sekarang, aku seperti itu. Tak ingin lagi berangan-angan. Tak ingin lagi tersakiti lebih dalam. Tak ingin lagi tenggelam dalam sejuta harapan yang berakhir menyedihkan, menyesatkan, menyakitkan, dan tidak sesuai dengan kenyataan. Maka inilah aku, yang lebih berhati-hati dalam menjatuhkan hati, yang tidak ingin gegabah dalam mencintai, yang akan selalu menjaga hati, agar tidak lagi tersakiti.

TENTANG SEBUAH MASA YANG BERJALAN MAJU BERSAMA WAKTU

WRITTEN BY : NILUH AYU MUTIARA ARIYANTI
20 DESEMBER 2013

Masa lalu adalah milik kita? Ya, tentu saja. Karena di masa itu, di masa yang kita sebut sebagai masa lalu, kamu dan aku memang bersama. Tetapi sayangnya masa yang sempat mempertemukan dan memberi kesempatan bagi kita untuk dilalui berdua, ternyata tidak hanya tinggal diam. Waktu terus bergerak, seperti layaknya kita yang terus tumbuh dan tidak lagi belia. Bahkan saat ini untuk sekedar bertemu dan bertegur sapa saja rasanya sulit sekali. Seiring berputarnya jarum jam, dengan pergantian siang dan malam, dan angka-angka dikalender yang mulai terlewati, dengan menjadikan yang sudah berlalu adalah masa lalu seperti yang seharusnya, apakah watak dan perasaan seseorang langsung bisa berubah? Bagiku ini terlalu mudah untuk diubah, tetapi sangat susah untuk bisa diterima begitu saja.
Katanya kita tidak boleh mudah menyerah. Katanya kita harus selalu kuat melawan jarak. Katanya ini, katanya itu, terlalu banyak quotes yang juga ‘katanya’ bijak. Semua sekarang seperti sampah! Seperti tulisan yang hanya dibaca saat sesuai dengan isi hati saat itu, tetapi lantas dirobek, dicabik-cabik, diremas, dan dibuang saat tidak lagi mampu menggambarkan apa yang dirasa saat ini.
Setelah jauh, apakah semua pantas untuk dilupakan? Mungkin saja masih ada sedikit ruang di dalam otak dan hatimu yang menyimpan sedikit dari kenangan kita dulu. Tetapi sayangnya aku tidak tau kebenarannya. Sedih. Masih ada berjuta orang diluar sana yang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal dirimu, untuk berbagi cerita dan keluh kesah hidupnya, untuk sekedar bercanda dan tertawa, untuk menghabiskan waktu bersama denganmu. Akan ada sangat banyak orang yang bisa berada dekat denganmu dan mengambil bagian dari hatimu yang seharusnya menjadi milikku, bukan dia. tetapi apakah ada ruang bagi seseorang saja untuk benar-benar kau beri kesempatan seperti yang pernah kamu lakukan terhadapku? Jika ada, maka aku akan sangat cemburu!
Tetapi mau diapa. Nasi sudah menjadi bubur. Katanya, tidak baik menengok lagi kebelakang dan menyesali yang sudah terjadi. Katanya, hidup tidak akan terus berjalan, mimpi tak akan mungkin tergapai, hidup tak mungkin menjadi lebih cerah, jika yang kita lakukan hanya melihat hal-hal yang seharusnya sudah kita tinggalkan dan sudah kita tutup dalam buku yang tertuliskan “masa lalu”. Life’s never stop. What you have to do is just moving on, step forward, and go ahead.
Tetapi bagaimana jika anganmu tentang masa depan ternyata justru yang sekarang harus menjadi masa lalumu? Yang justru harus kamu kubur dalam-dalam, tanpa menengok, tanpa boleh kembali lagi kebelakang? Bisakah aku maju ke depan jika tujuanku selalu mengarah pada hal-hal yang sudah seharusnya aku tinggalkan? Quote apa lagi yang bisa memberikan kata-kata yang katanya bijak untuk situasi yang sedang aku hadapi saat ini?
Hati memang bisa kembali mengharapkan hal yang sudah terjadi di masa yang lalu, tetapi tidak demikian halnya dengan waktu. Waktu terus berputar, seperti seharusnya dia bekerja, selayaknya yang dikrodratkan oleh Yang Maha Pencipta.
Ada orang yang terus berusaha mengejar hal yang diinginkan, ada yang menunggu impian untuk menjemput dirinya, ada pula yang hanya diam dan menyimpan tanpa memberi tahukan siapapun lalu membiarkannya berlalu seperti hilang ditelan cakrawala. Dan aku ingin menjadi orang yang terakhir, yang hanya menyimpan cerita tentang kita, tanpa tau apa yang harus dilakukan, menyerahkan cerita selanjutnya pada waktu. Karena waktu bisa merubah apapun, bahkan untuk sebuah perasaan yang pernah tercipta.
Masa lalu memang milik kita, yang harus ditinggalkan di masa sekarang. Namun bagaimana kisah kita di masa depan, tak ada seorangpun yang tau, kecuali Tuhan. Karena dalam perjalanan kita melanjutkan hidup, waktu selalu bisa merubah sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.