Putih Abu-Abu Kini Tinggal Cerita #PartOne

Sebuah ruang kelas hijau berukuran lumayan besar kini terisi penuh. Dua puluh dua murid pilihan di sebuah SMA unggulan kini terkumpul menjadi satu kelas. Seorang cowok berpenampilan rapi, pendiam, dan lebih banyak mengamati dari pada berbicara memilih bangku kedua dari belakang. Dia memang tidak terlalu ingin menonjol di dalam kelas barunya. Belum waktunya saja pikirnya.
          
     Di bagian deretan kursi terdepan, duduk seorang gadis berambut pendek sebahu. Jauh berbeda dari cowok pendiam itu, si gadis benar-benar terlihat ingin menonjol dan tidak mau kalah. Hal ini dapat terlihat jelas saat guru sedang menerangkan dan dia selalu ingin menjawab tanpa memberi kesempatan teman lainnya terlebih dahulu.
      
     Cewek itu tak menyadari bahwa teman-teman lain di belakangnya benar-benar tidak suka dengan sikapnya. Salah seorang teman sekelas mereka bahkan merasa benar-benar terusik memiliki teman baru seperti gadis itu. Berbeda dengan si cowok yang lebih memilih untuk mendengarkan guru matematika mereka yang mengajar daripada sibuk menilai atau sekedar mengganasi orang lain yang dianggapnya tidak terlalu penting untuk diberikan komentar.
       
     Beberapa hari sudah para murid ‘super’ itu digabungkan dalam sebuah kelas akselerasi. Tidak heran jika kini mereka telah saling mengenal nama, bukan benar-benar mengenal sifat maisng-masing.
               
    Jam pelajaran matematika kini telah usai ditandai dengan bunyi bel yang terdengar tak asing lagi bagi para siswa di sekolah itu. Satu per satu para murid merapikan alat tulis dan buku-buku mereka yang tergeletak di atas meja. Setiap murid mendapatkan sebuah meja dan kursi individu yang hanya dikhususkan bagi satu orang saja.

“Hari ini kita gak ada PR kimia kan?” tanya seorang gadis berperawakan mungil kepada temannya yang paling besar dan paling tinggi tubuhnya di antara murid-murid lainnya di kelas itu.
            "Iya, kita hanya praktik kimia saja” jawab cowok perperawakan tinggi itu.
             “Oh tentang larutan elektrolit dan non elektrolit bukan ya?” tanya cewek itu lagi.
             “Iya benar yang itu Nindy” jawab cowok yang ternyata merupakan ketua kelas mereka.
 “Hey lihat, pak guru sudah menuju ruangan! Ayo cepat! Nanti pak guru bisa marah  kalau kita terlambat” sambung sang ketua kelas yang bernama Piter.

 Di dalam sebuah lab kimia yang juga digunakan sebagai ruang kelas kini dipenuhi dengan para murid berjas putih persis seperti jas-jas yang dikenakan oleh para dokter. Mereka telah membuat kesepakatan dengan guru mereka untuk melakukan suatu praktikum kimia tentang percobaan mengenai daya hantar listrik beberapa larutan yang menunjukkan sifat dari masing-masing larutan tersebut dan jenisnya.

Sebelum memulai semuanya, sang guru membagi para murid menjadi lima kelompok. Si gadis berambut pendek sebahu mendapatkan kelompok yang sama dengan cowok yang waktu itu duduk di deret kedua dari belakang kelas matematika.
“Wah Daniel, ternyata kita kita dapat kelompok yang sama ya” ucap gadis itu berusaha  ramah.
“Iya Tiara” jawab cowok yang ternyata bernama Daniel.
Selain focus dengan praktikum mereka, Tiara juga diam-diam memperhatikan Daniel. Dia merasa aneh melihat teman sekelas barunya yang sedari tadi tidak bisa diam dan tenang dalam memperhatikan uji larutan yang sedang mereka kerjakan bersama. 
Sejak awal pas lagi persiapan alat dan bahan, sampai tinggal mengamati buih-buih udara di electrode karbon nya aja kok dia gak bisa tenang sih? Tiara bergumam dalam hati. Dia lalu mengkerutkan dahinya dan memutuskan untuk membiarkan tingkah Daniel. 
Hasil praktikum lalu dilaporkan kepada teman mereka yang lain untuk segera dituliskan dalam sebuah table yang telah disediakan di sebuah kertas LKS.
***
Daniel selama melakukan uji coba larutan berusaha melakukan semua yang diperintahan secara benar dan berusaha semampunya untuk tidak melakukan kesalahan. Setidaknya dia ingin melakukan yang terbaik di antara teman-temannya yang bisa dikatakan ‘expert’ sehingga mampu menyeimbangi.
Satu per satu alat dan bahan yang telah dibagikan per orang di ambilnya secara luwes dan cekatan. Tentu saja dia telah mengetahui nama alat dan bahan itu karena pernah ditemuinya saat percobaan sewaktu SMP dulu. 
Saat alat telah selesai dirangkai dan semua bahan telah dimasukkan sesuai takaran dan tinggal menunggu untuk diamati. Daniel tak ingin sekedar diam dalam mengamati setiap gelembung-gelembung yang muncul pada salah satu electrode carbon mereka seperti teman-temannya yang lain. Dia dapat bernapas lega karena Tiara telah melakukan hal yang cukup membosankan itu untuknya, sebagai bagian dari anggota kelompok mereka. Dia melirik ke arah Tiara yang sedang asik memangku tangan dan memperhatikan eksperimen secara teliti.
 
Menyadari bahwa dia tak seharusnya hanya diam mematung tnpa melakukan hal apapun, akhirnya Daniel memutuskan untuk berjalan ke meja kelompok lain dan benar saja semua sedang melakukan hal yang sama. Sesekali matanya beradu pandang dengan Tiara tetapi setelah itu Tiara langsung kembali memfokuskan diri ke arah tabung U yang didalamnya sedang terjadi reaksi kimia.
Daniel lalu kembali ke meja nya dan mencari tas spider built berwarna abu-abu. Dia mengaduk-aduk isi tasnya dan akhirnya menemukan buku paket kimia yang dicarinya. Dia lalu membaca dengan seksama teori-teori para ilmuan terdahulu dan melihat kertas LKS mereka agar dapat menjawab soal yang tertera. Dia lebih memilih membaca sambil berdiri daripada harus duduk dan meletakkan buku-bukunya bersama alat-alat yang kini dipenuhi lautan kimia, takut tersenggol dan mengotori buku-bukunya.
***
Walaupun kelas kimia kini telah usai dan semuanya bergegas mengenakan sepatu kembali, namun pikiran Tiara masih melayang-layang pada praktikum yang baru saja dilakukan. Dia tidak memikirkan mengenai apa yang tadi baru saja diujikan melainkan lebih kepada tingkah Daniel yang terlihat banyak tingkah dalam gesture tubuh tetapi diam dalam lisan. Benar-benar membuat penasaran pikirnya. 
“Hai jangan lupa dibuat dalam power point ya!” seorang temannya bernama Desi menepuk pundak Tiara dari belakang dan membuyarkan lamunanya mengenai Daniel tadi.
“Oh iya, kumpulnya minggu depan kan? Sip deh” Tiara yang bertugas membuat power point dari hasil praktikum tadi paham betul apa yang harus dikerjakannya.

     Masing-masing murid kini telah melangkah untuk kembali moving class dengan menggandeng tas di bahu mereka. Daniel kebetulan berjalan di samping Tiara. Baiklah hanya sekedar untuk basa-basi tak apalah jika di ajak ngobrol sebentar pikirnya.
         "Kita kelas apa habis ini?” tanya Tiara sambil menghadapkan wajah ke arah lawan bicaranya itu.
              “Bio” jawab Daniel singkat.
              “Apa?” Tiara tidak mendengarkan tadi karena suara Daniel yang sangat kecil baginya.
              “Biology” Ulang Daniel sekali lagi sambil menuju ke arah ruang Biology.
           “Oh, ya ampun suaranya hemat banget si” Ucap Tiara lalu mempercepat langkahnya. Dia terlihat sedikit kesal karena merasa sedikit diacuhkan.

Daniel yang melihat Tiara berjalan lebih cepat didepannya lalu tersenyum melihat tingkah cewek itu. Entah apa yang membuatnya tersenyum. Mungkin saja merasa aneh karena tiba-tiba wajah ramah Tiara berubah menjadi kesal dan langkah kakinya kini seperti robot yang dipercepat jalannya.
***
Kelas biology kini dimulai. Seperti biasanya Tiara selalu duduk di depan. Sebenarnya andaikan teman-temannya tau dan tidak menyimpulkan macam-macam dahulu, Tiara selalu duduk di depan bukan hanya karena ingin agar selalu mendapat perhatian lebih dari gurunya di dalam kelas melainkan juga karena daya akomodasi matanya yang sudah jauh dari normal. Hal ini menyebabkannya kesulitan membaca tulisan di papan jika harus duduk di deretan kedua dari depan wlaupun sudah menggunakan kacamata.
Biology merupakan pelajaran yang sangat disukai oleh Tiara. Tak heran jika dia sangat ahli dalam menghafalkan nama-nama latin hewan, tumbuhan, bakteri, dan penyakit-penyakit serta bagian-bagian dari sel dan anatomi tubuh makhluk hidup. Sebelum pelajaran Biology dimulai Tiara bahkan sudah lebih dulu mempelajari materi yang akan di bahas oleh guru mereka. Pak Sibarani merupakan guru kesayangan Tiara dan sepertinya sama halnya dengan beliau yang menganggap Tiara sebagai salah satu anak emasnya di kelas itu.
Bapak Sibarani memang memiliki satu kelemahan dalam mengajar. Beliau akan lebih focus bertanya pada murid yang itu-itu saja. Beliau juga agak susah menghafal semua nama murid-muridnya. Sehingga bukan suatu hal yang salah jika lantas murid-murid lainnya merasa cemburu dan sedikit diabaikan. 
Murid-murid pada deret ketiga dan keempat dalam ruangan kelas Biology mulai merasa jenuh. Terkadang ide brilian bisa datang kapan saja bahkan di saat otak tak lagi mampu bekerja menerima pelajaran dikarenakan impuls-impuls syaraf lebih focus bekerja untuk menyampaikan rasa kantuk ke otak dari pada impuls-impuls syaraf pendengaran mengenai materi Biology yang sedang diajarkan. 
Salah seorang dari mereka yang bernama Desi mulai mendapatkan sebuah ide brilliant. Di baliknya sebuah buku biology catatan lalu dirobek lah bagian belakang bukunya. ‘Tulis Gelar Untuk Professor Kita’ lalu seperti sebuah angket, kertas itu berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh murid-murid di bagian deret pertama apalagi pak guru. Dalam waktu kurang dari lima menit kertas itu telah terisi penuh dengan berbagai macam gelar mulai dari sarjana hingga pasca sarjana yang urutannya benar-benar gak beraturan. Lalu di bagian tengahnya tertulis huruf capital bercetak tebal nama panjang Tiara. 
Awalnya Tiara benar-benar tidak mengetahui tentang hal tersebut karena dia lebih focus pada pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru kesayangannya itu. Walaupun dia juga mendengar beberapa kali teman-teman sekelasnya di belakangnya yang tertawa pelan dan kadang-kadang mengantuk. Baru beberapa hari kemudian salah seorang teman merka memberitahukan apa yang terjadi saat itu. Tiara yang sedikit sebal dengan apa yang mereka lakukan di belakangnya berusaha tidak ambil pusing dan hanya mengamini semoga semua gelar itu tercapai atau setidaknya gelar dr. bisa dimilikinya.
***

DI ATAS PERBEDAAN KITA MENGUKIR CINTA BERDUA

DI ATAS PERBEDAAN KITA MENGUKIR CINTA BERDUA
Karya : Niluh Ayu Mutiara Ariyanti
(Cerita Fiksi, Bukan Dari Kehidupan Nyata)

Bagaimana mungkin kamu bisa mengatasnamakan cinta dan meletakkannya di atas perbedaan kita yang sangat mendasar dan sama sekali tidak dapat di tolelir? Dan bagaimana pula aku dapat menerima sinyal-sinyal itu dan melambungkannya di antara iman kita yang berbeda? Sesungguhnya aku benar-benar tidak mengerti. Saat perbedaan justru yang membuat kita lebih memahami arti saling mengerti dan menyayangi. Saat perbedaan kepercayaan yang menjadikan kita lebih memilih berjalan berdua di atas karpet merah berlambangkan hati yang menyatu.
Aku tidak ingin jatuh terlalu jauh. Sama sekali tak boleh. Apalagi bersamamu, tentu saja. Aku rasa kamupun berpikir hal demikian. Namun apa daya saat rasa itu menarik kita kian mendekat?   Semakin erat hingga terasa tubuh ini terborgol tak bergerak.
Aku harus mulai melangkahkan kaki tuk menjauh pergi. Walau setiap inchi yang kulalui terasa begitu perih. Walau setiap detik yang kuulur terlihat begitu sadis. Lalu rasa bahagia semu yang kucipta kini mulai terlihat memilukan. Aku merasakan kosong dan kering kerontong. Aku tak dapat merasakan semut-semut kecil yang nakal menggelitik dan menyengati tubuhku seperti saat kita masih saling tatap dan menyapa. Apa ini? Kenapa rasanya seperti ini? Menyedihkan sekali! 
Antara pikiran dan hatiku kini semakin tak dapat kusamakan. Otak ini berkata, jangan! namun hatiku menjerit-jerit minta diiyakan. Mereka berbeda! Pola pikir dan perasaan yang tercipta begitu saja tak mau melebur bersama-sama. Mereka membingungkan! Padahal sama-sama ada dan terletak didalam tubuh yang sama pula. Lalu bagaimana aku satukan mereka yang jelas-jelas berbeda? Yah, nampaknya hati dan pikiranku sendiri justru jauh lebih egois dibandingkan kita yang walau berbeda namun masih lebih mudah tuk menemui titik temu. Saat indahnya perbedaan dapat dengan mudah dijadikan satu dan lalu semua melebur bersama-sama.
Hidupkan saja semua mimpi yang telah terangkai. Saat kita sibuk wujudkan mereka, waktu juga sedang sibuk berlari tuk habiskan massa nya. Terus saja seperti ini, aku mohon. Sampai dimana nanti Dia yang kita sebut sebagai Tuhan kan izinkan semua terjadi, dan sampai nanti semua harus ditakdirkan tuk berhenti.
Lemah gemulai angin bermain anak-anak rambut kita. Pelan, berkas-berkas cahaya matahari menyusup diantaranya.  Kita masih berpijak bersama, memandang ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, menikmati sisa waktu yang entah kita berduapun tak tau sampai kapan ini kan berlalu. Empat mata saja, saling beradu pandang. Tak berucap. Namun tersirat jelas bahwa kita tak ingin ini berakhir. Lalu dalam diam kita berbicara bersama ”Di atas perbedaan kita mengukir cinta berdua”.

-TAMAT-

KARENA LANGIT TAK SELAMANYA CERAH


KARENA LANGIT TAK SELAMANYA CERAH
Karya : Niluh Ayu Mutiara Ariyanti

Kita masih memandang langit yang sama walaupun rupanya tak selalu seperti itu adanya. Terkadang dia berwarna putih dan tertutup oleh awan yang bagaikan kapas. Kadang wujudnya berubah menjadi gelap dan berwarna hitam. Sesekali hujan menangis dan mengguyur bumi dengan derasnya. Namun tak jarang pula biasan cahaya yang membentuk pelangi mewarnai cerahnya hari untuk mengibur langit yang cengeng. Seperti wujud langit yang selalu kita tatap berdua, berubah-ubah dan tak  selalu pasti. Seperti itu pula hidup yang kita jalani sekarang ini.
Aku bukanlah Tuhan. Aku juga bukan sang Maha pencipta segalanya, sudah pasti. Aku bukan suatu zat mulia yang memiliki kekuatan diluar batas kemampuan manusia untuk dapat mengatur segala sesutau dan menakdirkan serta menciptakan hal yang sempurna. Aku hanya manusia biasa, ya tanpa kemampuan super untuk mengetahui masa depan secara pasti. Hidup ini kadang membingungkan. Tidak selalu sama dan tidak selalu bisa diprediksikan secara tepat. Belum tentu apa yang terjadi saat ini akan terjadi pula hal yang sama esok, walaupun waktu memang selalu berputar rutin dengan cara yang sama, monoton.
Aku terkadang takut jika esok semua kebahagiaan ini akan luntur begitu saja. Aku takut besok senyuman yang terlukis di wajah kita masing-masing tak lagi nampak. Aku takut genggaman erat tangan kita sedikit demi sedikit mulai merenggang. Aku takut hangatnya sinar matahari tak lagi sehangat persahabatan kita. Aku takut persatuan kita mulai tak lagi terjalin. Aku takut iri dan benci mulai hadir di hati kita masing-masing. Aku takut sinis dan cibiran mulai hadir menghiasi setiap kata yang keluar dari bibir kita. Aku takut kamu akan lebih peduli dan menemukan orang baru yang lebih baik dan lantas melupakanku.
“kamu jangan pikir yang aneh-aneh dong, kita akan jadi sahabat selamanya” tanganmu mulai menggenggamku.
“Aku hanya takut” aku tertunduk, menggenggam jemarinya semakin erat.
“Kenapa? Apa kamu tak bisa mempercayai aku?” kali ini dia mulai ragu.
“bukan.. bukan begitu”
“Lalu apa? Aku gak mau kamu mikir hal-hal aneh yang semoga gak akan terjadi sama kita” dia lalu tersenyum tipis dan memegang tanganku di depan dadanya.
            Aku tau diapun sedikit ragu. Mengapa? Kata “semoga” yang terlontarkan seolah menggambarkan sedikit ketakutan yang sama seperti yang aku rasa. Namun dia tak ingin memperlihatkannya. Dia tak ingin membuatku yakin dnegan kerguanku itu.
            “Aku hanya takut, itu aja kok. Ya soalnya perasaan orang itu kan biasa berubah kapan aja. Aku takut semua akan terjadi sebaliknya”
            “kenapa kamu berkata seperti itu? Kenapa kamu tiba-tiba berpikir begitu? Apa kamu mulai merasa tidak nyaman dengan persahabatan kita?” keningnya mengkerut. Matanya terlihat meminta suatu pengakuan dariku.
            “Enggak, enggak sama sekali. Aku ngerasa nyaman kok. Cuma sedikit lagi kan kita bakal pi-pisah” aku kembali tertunduk memandangi kerikil-kerikil kecil di bawah kakiku”
            “Perpisahan ya. Pertama kamu harus tau kalau perpisahan itu gak bisa dipungkiri. Semua orang juga bakal pisah. Bahkan untuk pasangan suami isteri yang udah saling mencintai aja bisa terpisahkan oleh kematian…” dia lalu memandangi langit sore, “ya termaksud kita, aku tau, sedikit lagi.” Bibirnya lalu mengatup.
            “iya, itu yang sejak tadi aku takuti. Sejujurnya aku khawatir”
            “khawatir?” dia lalu mendesah sesaat dan menungguku untuk menjawab.
            “Nanti kalau kita udah lulus, kamu akan nemuin teman baru”
            “Ya kamu juga kan? Hehe” tawanya seolah tertahan oleh sesuatu.
            “terus kalian bakal main dan ketemu sama-sama lebih sering”
            “Itu kan hanya masalah frekuensi karena tempat kuliah yang sama”
            “dari situ kalian bakal akrab.. dan..” aku tak ingin melanjutkan, berharap dia mengerti apa yang aku maksudkan.
            “Oh kamu cemburu ya kalau aku lebih dekat dengan yang lain? Hahaha cie kayak pacar aku aja cemburuan hahaha” dia tertawa lepas kali ini. Dia semakin terlihat cantik saja dengan ekspresi seperti itu.
            “Ih kamu ini! Aku gak sama tau kayak pacar kamu! Aku kan cewek! Jangan-jangan kamu lesbian ya! Ih takut aku, diem-diem kamu naksir aku ya!” aku mulai ngeledek dan ngelantur, susasana mulai lebih ceria.
            “ye! Kamu pikir aku homosex apa? Aku gak bilang naksir kamu kok. GR ya kamu haha”
            “Ya habisnya.. uh iya deh hehe. Tapi aku serius tadi”
            “Iya, aku tau kekhawatiranmu itu. Aku juga sering kok mikir kayak gitu. Gimana nanti kalau haluan kita udah berbeda, tempat kita menimba ilmu udah gak sama, hari-hari yang kita jalani udah gak berduaan lagi, kita udah gak selalu pergi kemana-mana tempelan terus kayak perangko dan suratnya, kita udah gak kayak bapak Gatot dan kumisnya yang selalu terlihat klop, kita..”
            “eh stop, stop! Kok ada kumis pak Gatot sih?” aku memotong hayalannya yang mulai melambung jauh.
“hehe maaf deh, aku tiba-tiba inget aja. Kan dari sekian banyak guru kita, beliau yang paling mudah diinget dengan style nya yang beda sendiri itu loh!”
“Ah sama aja kok style guru-guru kita. Toh juga baju yang dipakai sama semua, Seragam. Inget style apa kumisnya nih!? apa mungkin kamu jatuh cinta ya sama kumisnya? Jadi inget terus deh! Haha” obrolan kami mulai mengarah ke arah candaan.
“Yee… enggak lah hahaha. Aku tau kita bakal kangen semua yang ada di sekolah ini. Bahkan guru-gurunya mulai dari yang paling baik sampai yang paling killer kan nada semua”
“Apalagi ibu Rose! Gila deh tuh Ibu kalau ngasih PR tebel nya minta ampun!”
“Iya! Kalau di suruh nyatat banyak banget! Kalau ngedikte aja cepet nya kayat kereta yang babalas ‘seeettt’ udah tiba-tiba udah sampe di titik aja! Padahal baru juga nulis dua kata hahaha”
“ah kalau itu sih karena kamunya aja yang lambat nulisnya!” aku menpuk pundaknya dan tertawa.
“ah enggak juga kok hehehe. Tapi ya walaupun sering terlambat nyatat aku kan bisa minjem punya kamu!” dia balik menepuk pundaku.
“ah dasar kamu sejak dulu sama aja haha”
“ya that’s the real me. Congrats you’ve known! Tapi kalau kita pisah aku gimana dong? Kalau telat aku minjem catatan siapa?”
“ya pinjem temen baru kamu aja” aku sedikit sewot.
“Ih kok kamu jadi sewot gitu sih bilangnya. Jangan cemburu dong sayang!” dia mulai menggeliat manja dan memelukku.
“Ih geli ah! Genit banget meluk-meluk. Ya kan ada temen baru kamu nanti”
Dia menarik napas yang cukup panjang, “Kita tidak mungkin hidup selamanya dengan orang yang sama. Ada yang datang dan ada yang pergi. Tapi bukan berarti setiap orang yang singgah di kehidupan kita sama semua. Belum tentu yang baru lebih baik. Kamu ngerti maksud aku kan?”
“YES, I got it so clearly. Aku cuma gak mau kamu ngelupain aku”
“so do I”
“kalau aku ya gak bakal lupa sama kamu lah!” aku berbicara tegas seperti sedang membacakan sebuah ikrar.
“so do I”
“kok dari tadi ‘so do I” terus sih?”
“hm, aku bakal lakuin hal yang sama seperti yang kamu lakuin selama kamunya gak berubah dan tetap seperti ini”
“Lalu kalau aku berubah?”
“aku gak mau kamu berubah.” sebuah jawaban yang singkat dan pernyataan yang jelas tapi sebenarnya tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya.
“Setiap orang bisa berubah setiap saat”
“itu tergantung masing-masing individunya. Bagaimana dia mengontrol dirinya karena hanya dia yang paling memahami apa yang sebenarnya dirinya mau dan butuhkan”
“butuhkan?” aku bertanya dan memintanya memperjelas kalimat yang barusan terucap.
“Iya, yang dia butuhkan. Seperti apa teman yang dia butuhkan di masa-masa saat dirinya mulai menjadi lebih dewasa nanti”
“Aku mengerti kok apa yang diriku butuhkan dan apa yang diriku mau”
“seperti apa?”
“aku mau dan aku butuh teman baik seperti kamu yang udah mengerti semua sifat buruk dan menjengkelkanku tetapi masih mau bermain dan menjadikan aku sahabatmu”
“hehehe makasih” dia tersenyum malu padaku, “ Aku juga sama. Aku takut aku gak bisa jadi sahabatmu seperti yang kamu butuhkan saat dewasa nanti karena masa-masa seperti sekarang dan masa yang akan datang akan jauh berbeda”
“ seperti yang kayak kamu bilang tadi kalau ada yang datang dan ada yang pergi. Tapi bukan berarti setiap orang yang singgah di kehidupan kita sama semua. Belum tentu yang baru lebih baik. Aku percaya kok kalau kamu bakal jadi yang terbaik di antara teman baik yang aku punya” aku lalu memeluknya.
“Aku juga percaya kamu adalah teman yang terbaik diantara teman baik yang aku punya” dia balik memelukku.
“jangan lupakan saat-saat seperti ini ya? Janji ya?”
“iya aku janji. Kamu juga ya?” dia mengangkat jari kelingkingnya.
“Iya aku janji” aku lingkarkan kelingkingku ke miliknya yang ukurannya lebih kecil dan kami berduapun berjanji di bawah langit sore yang teduh.
Bahagia menyelimuti hatiku saat ini. Dan tak ada pula yang mampu mengetahui seberapa bahagiakah aku esok hari. Masih samakah seperti ini? Aku hanya mampu berharap kami berdua mampu menepati janji kami dan selalu menjadi sahabat seperti hari ini.
Langit sore indah sekali, orange warnanya. Aku tau bahwa tak ada yang mampu mengetahui secara pasti warna langit apa yang akan hadir esok hari. Aku hanya mampu berharap langit selalu indah seperti hari ini.
Seperti langit yang tak selalu sama setiap harinya. Seperti itulah realita kehidupan daN perasaan setiap orang, tidak selalu sama, dan TAK ADA KEPASTIAN.