Showing posts with label Romance. Show all posts

SEHARUSNYA TUHANKU, BUKAN KAMU!



SEHARUSNYA TUHANKU, BUKAN KAMU!
Written By : Niluh Ayu Mutiara Ariyanti

Jemari tangan Aisyah masih menari diatas tuts-tuts piano tua itu. Menebarkan jutaan nada yang berdenting halus memukau jiwa. Dia masih asyik memanjakan hasratnya, terbelenggu dalam lantunan melody yang terangkai merdu. Dia masih sibuk disana, menghabiskan waktu untuk bermain alat musik kegemarannya.
Nampaknya lantunan melody piano berhasil memenangkan pendengarannya. Aisyah kini tak menyadari handphone nya telah ribut berkicau cukup lama. Setelah cukup puas bermain, Aisyah lalu memilih untuk menyudahi konser kecilnya. Betapa lelah otot-otot serta jemari mungil itu. Sambil berelaksasi, dia memalingkan wajah dan seketika menyadari bahwa dirinya baru saja mendapatkan mini heart attack.
Dengan segera dia beranjak dari kursi kecil itu. Diraihnya sebuah handphone yang sedari tadi terkapar dan teracuhkan di atas sofa. Dengan hati penuh kecemasan, Aisyah membuka gadget mungilnya dan mendapati beberapa unread messages serta missed calls dari Nanda sang kekasih. Kini perasaannya semakin tak tenang.
Benar saja, semua pesan yang dibaca dengan perasaan was-was dan takut itu kini menjelaskan secara terang benderang.  Seperti biasanya, Nanda mulai berkicau panjang lebar, marah-marah dan banyak meletakkan tanda seru disetiap kalimat yang dituliskannya.
Ya, Aisyah tak begitu terkejut mendapati dirinya dibantai habis-habisan dengan kalimat yang tidak enak. Dia tau betul sifat pacarnya itu, yang selalu marah-marah jika smsya lambat dibalas, telponnya tak kunjung diangkat, mention twitter tenggelam, atau jika Aisyah sedang sibuk melakukan sesuatu sehingga dianggap tidak perhatian dan melupakannya. Memang ini terlihat sangat complicated, tetapi gadis ini masih bersabar. Telapak tangannya lalu diusapkan lembut didada. Dia tidak mau ikut-ikutan tersulut emosi. Ya, setidaknya hanya untuk mendinginkan suasana kala itu. Tidak ada guna berkelahi, pikirnya.
***
Jalan raya itu kini semakin ramai. Berisikan insan yang hendak kembali ke rumah setelah lelah beraktivitas seharian. Tergambar jelas pergulatan antara mobil dan motor kala itu. Saling bersaing menebarkan polusi udara dimana-mana.
Nanda mulai mengerutkan dahinya. Berulang kali menerobos pandang ke arah luar dari balik kaca jendela sebuah café. Dia memang sengaja memilih tempat di pojokan, tepat menghadap kaca jendela berukuran sekitar 3x2 meter yang berornamen kupu-kupu. Satu-satunya alasan yaitu karena tempat itu dirasa sangat strategis untuk segera menangkap bayangan orang yang ditunggunya jika telah tiba nanti. Berulang kali Nanda mengganti posisi duduk sembari meremas-remas jemarinya dengan gelisah. Memang hal menyebalkan apalagi yang sedang dilakukannya selain menunggu Aisyah?
Tak berapa lama kemudian sang gadis yang ditunggupun akhirnya datang. Tersirat jelas raut wajah Aisyah yang gelisah, jauh lebih gelisah daripada sosok dihadapannya itu. Dia tau pasti Nanda akan marah dan ngomel-ngomel lagi.
“Kenapa lama sekali sih!” Nanda memulai pembicaraan dengan nada ketus. Tentu saja itu bukan cara memulai pembicaraan yang baik, apalagi kepada seorang wanita.
“A-aku baru pulang kuliah” Dengan gugup Aisyah lalu mengambil tempat tepat didepannya.
“Bukannya kamu sudah keluar dari setengah jam yang lalu? Naik taksi kesini butuh waktu selama itu ya?” Nanda berbicara seolah menyudutkan posisi gadis yang sedang duduk tepat dihadapannya.
“Ya kamu sabar dong. Kan aku pulang juga gak langsung buru-buru naik taksi” Aisyah berusaha menjelaskan dengan tenang.
“Iya, kan masih asyik cerita dengan teman-teman cowok kamu hahaha” Nanda mulai menyindir lagi. “Tega banget ya, sudah tau kita udah janjian ketemu, eh kamu malah sengaja biarin aku nunggu lama”
“Ya ampun Nanda, bukan begitu. Ah mau dijelasin kayak apa juga pasti kamu tetap bakal marah dan gak percaya kan. Ya udah maaf” Gadis itu tertunduk, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia sungguh kecewa dengan sikap pacarnya barusan.
Aisyah kini menjadi serba salah. Dia kebingungan merangkai kata untuk menjelaskan semuanya. Karena dia tau apapun dan bagaimanapun penjelasan yang diberikan, ujung-ujungnya dia tetap akan menjadi kambing hitam yang selalu terpojokkan dan tidak memiliki hak untuk membela diri. Mengapa semua menjadi serumit ini?
“Ya udahlah kita lupain aja masalah itu. Yang penting sekarang kamu sudah datang” Seperti ada sedikit cahaya di mata Aisyah ketika mendengarnya. Akhirnya Nanda sudah tidak mempermasalahkan hal tadi lagi. Gadis bermata cokelat itu kini bisa sedikit bernapas lega.
“sekarang ini aku mau certain ke kamu tentang temen kerja aku di kantor. Dia itu sangat menyebalkan!” Nanda seperti robot yang sudah di setting untuk selalu marah. Baru saja satu masalah terselesaikan kini ada saja masalah baru yang muncul. Aisyah tau hal apa yang harus dilakukannya sehabis ini. Seperti biasa dia hanya harus ‘mematung’. Ya, layaknya boneka yang hanya disuruh diam mendengarkan keluh kesah si pemilik tanpa berucap apapun. Seperti mainan pelampiasan emosi.
Tentu saja mood Aisyah jadi berubah total. Dia capek-capke pulang kuliah hanya untuk mendengarkan cerita gak penting cowok itu? Aisyah tertunduk lagi, matanya sayu. Sabar Aisyah, sabar saja dulu. Batin Aisyah menjerit-jerit. Nanda ternyata cukup peka dalam melihat perubahan mimik wajah kekasihnya. Tetapi bukan hanya itu, perhatiannya kini lebih tertuju pada kedua kelopak mata Aisyah.
“Hey tunggu dulu, apa itu di mata kamu?” Nanda mulai memicingkan kedua bola matanya.
“Apa? Oh ini eye liner. Memangnya kenapa?”
“Kamu kok tumben pakai kayak gituan? Aku gak suka, gak natural! Gak usah ikut-ikutan teman-teman kamu yang dandanannya menor! Jangan-jangan kamu mau memikat hati cowok lain!” Nanda melipat kedua tangannya, melotot hingga kedua bola mata nya hampir melompat keluar beserta saraf-saraf yang timbul di dahinya. Wajahnya nampak sangat merah seperti tomat yang sudah matang.
“Ya Ampun, apa-apaan sih kamu ini. Aku pakai ginian aja kamu sampai mikirnya negative kayak gitu? Kamu tega sekali ngomong seperti itu. Kamu gak pernah mikir perasaanku Nanda!” Seketika Aisyah shock. Seperti ada papan kayu besar yang menumbuk dadanya. Lagi-lagi dia salah, selalu salah.
“Sudahlah Nanda. Jika kita lanjutkan perbincangan ini, akan ada ratusan lagi topik perkelahian baru yang kita mulai. Lebih baik aku pulang saja sekarang”
Aisyah langsung berpaling tanpa menunggu jawaban dari lelaki yang nampak geram dibelakangnya. Dia memilih untuk tidak menggubris setiap pandangan mata orang-orang sekitar yang melihat ke arah mereka berdua. Apalagi menggubris cerocosan penuh amarah sang kekasih. Sungguh tak penting lagi. Saat itu pikirannya hanya satu, pulang.
***
Aisyah kini mendapati dirinya sedang duduk di kursi belakang sebuah angkot tua yang penuh sesak. Irama lagu rock anak muda jaman sekarang sedang ramai bersenandung memekan telinga. Namun jauh didalam sana, di hati Aisyah, dia sedang kesepian. Pikirannya campur aduk. Dia masih tidak habis pikir dengan sikap orang yang disebutnya sebagai kekasih itu. Yang seharusnya mendukungnya dalam berbagai hal, termaksud kuliah. Tetapi kenyataannya tidak. Dia kini menjadi lebih risau ketika teringat akan ujian blok yang harus dihadapinya besok. Namun karena pertemuan tak berarti tadi, waktu belajar dan pikirannya harus tersita. Otaknya kini sudah lelah. Batinnya terselimuti oleh gundah.
Sore itu awan mulai bergeser merebut posisi matahari. Menutupi bola api raksasa sehingga menaburkan eksotika warna jingga di langit. Ah, efek tyndal memang selalu cantik. Tergambar jelas lukisan Tuhan yang mampu mempesona setiap pasang bola mata. Subhanallah, Sunggu indah ciptaanMu ya Rabb, Tuhan semesta alam.
Terdengar pelan suara langkah kaki Aisyah yang menginjak kerikil-kerikil kecil sepanjang menelusuri sebuah jalan setapak menuju tempat untuk pulang, rumah. Dia sedang galau. Seperti sesuatu yang teramat berat sedang ditopang batinnya. Beribu kali segala pikiran-pikiran buruk coba dihempaskan, tetapi nyatanya tak bisa. Segala hal buruk yang terjadi telah sukses menggerogoti semua memorinya hingga habis sudah segala yang baik di sana.
Dia menjadi lebih sakit hati ketika mengingat saat dirinya dituduh selingkuh dengan teman sekelasnya hanya karena terpaksa menerima ajakan temannya untuk diantar pulang. Menerima tawaran itu bukan tanpa alasan. Saat itu semua tugas kelompok baru saja terselesaikan di saat hari telah cukup larut dan akan bahaya jika dia naik taksi sendiri malam-malam. Sekalian juga rumah mereka searah. Tetapi Nanda dengan segala keegoisannya tetap tak mau mengerti. Selalu saja begini.
Aisyah lalu tersadar dari lamunan masa lalu itu. Dia secara refleks menggoreskan lekukan tipis di pipi yang disebut senyum. Senyuman itu palsu, tercurah dari dalam hati yang lebam dan membiru. Ini untuk kesekian kali dia pulang dari bertemu kekasih dalam keadaan berkelahi.
***
Baru saja dia sampai di depan rumah dan hendak memegang daun pintu yang berlapis logam alumunium, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara adzan dari arah barat. Seketika cairan hangat berwarna bening di pelupuk matanya tumpah, tak mampu terbendung. Tidak, kali ini Aisyah tak kuat lagi.
“Ya Allah, aku lelah dengan semua ini. Aku ingin pulang. Aku ingin kembali kepadaMu. Aku telah pergi terlalu jauh, semakin jauh dariMu” dia kini menjerit dalam hati yang merana. Namun hanya isak tangis yang mampu terdengar pelan karena berusaha ditahan.
Sejujur tubuhnya terasa lemas. Kepalanya pusing, telapak tangannya terasa dingin. Dia lalu mengambil beberapa langkah gontai menuju kamar mandi.
Gemericik air mulai terdengar. Air wudhu itu kini mengalir membasahi tubuh Aisyah. Kening yang lama tak mencium sajadah kini mulai sujud menyembah Allah. Di saat seperti ini tubuhnya terasa kaku. Dirinya terasa bagaikan debu.
Ya Tuhanku, aku bukan siapa-siapa di mataMu. Bisikan itu terdengar jauh dari dalam hatinya. Ya, suara hati yang sekian lama tak pernah berucap. Dia kini bercerita, mengadu, berkeluh kesah kepada Tuhan-nya, Allah. Sajadah itu kini mulai basah karena air mata Aisyah yang tumpah. Dia kini terisak, menangis, tersedu-sedu.
Segala memori silam seperti terputar kembali. Flashback tentang semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Dia kembali teringat di masa saat Nanda belum membubuhkan benih-benih yang disebut cinta. Dia teringat saat dirinya bebas bergaul dengan siapa saja. Dia teringat saat warna merah muda dan film Barbie menjadi kesukaannya. Walaupun itu terlalu kekanak-kanakan. Bukan seperti dirinya saat ini yang ‘terpaksa’ menyukai warna biru dan segala jenis film action yang menurutnya sama sekali tak ada bagus-bagusnya. Dia juga teringat saat IPK di atas 3 selalu menjadi nilai akhir di setiap semesternya. Tetapi sekarang? Nilainya sungguh merosot tajam. Semua hal baik dimasa lalu harus dibiarkan padam hanya demi sesosok lelaki tampan.
Aisyah kini menangis sejadi-jadinya ketika mengingat semua hal buruk yang menimpa hidupnya. Jadi ini salah siapa? Dia kini menyadari bahwa kehadiran Nanda hanya akan memperburuk keadaan, hanya akan menghambat masa depan. Bahkan dialah tersangka dari semua ini. Aisyah menyadari ini tak sebanding. Antara apa yang dia berikan dan yang justru dia dapatkan.
Tiba-tiba suara hatinya terdengar. Berontak, menjerit dalam diam. “Aku harus berubah! Aku harus kembali seperti Aisyah yang dulu” dan saat itu, di satu waktu, Allah masih setia mendengarkannya mengadu.
“Apa yang pantas aku pertahankan dari pacar posesif kayak gitu? Aku merasa bodoh sekali selama ini. Mau dijadikan manekin yang harus selalu patuh dengan segala perintah. Padahal dia sama sekali tidak menyumbangkan hal baik dalam hidupku. Hanya cinta semu yang justru menghanyutkan. Hanya menggantungkan asa yang kini remuk tak berbentuk”
Aisyah seperti sedang menasehati diri sendiri. Menyadari apa yang selama ini dilakukannya salah. Menyadari bahwa cinta bukan semata mengikuti kemauan si dia. bukan juga menjadi orang lain dan rela kehilangan jati diri.
“Aku harus berubah. Layaknya sebuah ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Kenangan-kenangan masa indahku yang sempat terkubur harus aku gali kembali. Jati diri yang sempat hilang harus aku raih lagi. Masa lalu yang kelam bersama lelaki itu harus segera aku tinggalkan. Karena cinta seharusnya saling mendukung, bukan semata mengikuti kemauan salah satu pihak dan mengekang yang lainnya. Sama sekali bukan simbiosis parasitisme melainkan mutualisme” seperti mendapat semangat baru. Kini Aisyah tau bahwa dirinya yang dulu telah kembali, bahkan bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar untuk memperbaiki diri dan belajar dari masa lalu yang kelabu.
***
Ketika kamu merasa tak ada seorangpun yang mau mendengarkanmu
Sesungguhnya Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu
Ketika kamu merasa tak ada lagi tempat untuk pulang
Sesungguhnya Allah akan selalu senang menerima dirimu untuk kembali datang
Ketika kamu merasa masalah sangat menyiksa
Sesungguhnya Allah akan selalu menjamah setiap doa hambaNya
Bagi mereka yang mau menengadahkan tangan, mengikhlaskan jiwa, untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta.

Kedua telapak tangan Aisyah yang sedari tadi menengadah ke langit tuk  memohon kepada sang Khaliq, mulai diusapkan ke wajah sambil berkata ‘amin’.
Dia tau, kini pemikirannya telah kembali jernih. Perempuan itu lalu tersenyum bahagia dan berterima kasih kepada Tuhan-nya, Allah SWT, sang maha penyayang atas segalanya. Dia sekarang merasa jauh lebih tenang.
Seharusnya pinta Tuhanmu-lah yang selalu kamu turuti. Bukan malah kekasih duniawi yang diijinkanNya untuk mengisi hidupmu saat ini. Ingatlah ungkapan klise yang mengatakan ‘Pacarmu belum tentu Jodohmu’
***

KETIKA DIA YANG AKU HARAPKAN UNTUK MASA DEPANKU, TERNYATA BUKAN DIA

Alhamdulillah cerpen ini masuk dalam 10 Nominasi Cerpen Terbaik Bulan Agustus 2013 :)

Happy Reading!

___________________________________________________________________________________



KANVAS KEHIDUPAN
KETIKA DIA YANG AKU HARAPKAN UNTUK MASA DEPANKU, TERNYATA BUKAN DIA

Karya :Niluh Ayu Mutiara Ariyanti

Di atas gundukan tanah merah tawa kita merekah. Dulu kita bahagia bersama, menghabiskan masa sebelum kita benar-benar serius ingin menggapai asa. Dulu berlarian tanpa alas kaki dan merebah pada lempeng bumi yang beratap langit biru adalah kegemaran kita. Aku tak pernah mengeluh atas kesederhanaan hidup yang kita jalani. Aku selalu mengingat setiap ucapan polos penuh makna mu yang memotivasiku “kita akan sulit bahagia jika kita juga sulit bersyukur”. Darimu aku belajar banyak.
Dulu tanganmu tak sungkan menggengam pada sela-sela jemariku saat diri ini tak mampu lagi mendaki. Dulu pundakmu begitu kuat menggendongku di saat aku kelelahan untuk berjalan dan kembali pulang. Dulu kamu selalu melindungiku. Sosok perkasamu tak pernah aku lupa. Kamulah pembela dari segala kegaduhan dan kejahilan anak-anak nakal yang mengusiliku. Hal lain yang aku senangi dari dirimu yaitu kamu tak pernah sombong atas kepintaran yang kamu miliki. Tak pernah malas dan angkuh dalam mengajari ulang aku setiap pelajaran IPA dan matematika yang diajari ibu guru di sekolah. Betapa itu pelajaran yang susah namun rasanya begitu mudah bagimu. Aku selalu merasa nyaman saat berada di dekatmu, dalam segala kondisi, dalam setiap keadaan. Aku bahagia.
Pernah ingat harapan dan keinginan kita? Mungkin ini hanyalah sebuah angan, namun bagaikan ikrar kita berdua yang terlontar saat kita duduk bersama di atas bukit yang menghijau. Kamu dan aku pernah punya cita-cita, kita berdua ingin menjadi dokter. Dulu kita ingin mengelilingi dunia. Dulu terselip keinginan kita untuk pergi ke negeri cokelat. Dulu kita pernah memiliki mimpi untuk membangun sebuah kerajaan. Kamulah rajanya dan aku sebagai sang ratu. Masih ada lagi berjuta harapan yang pernah kita rangkai bersama, terkandung dan diam bersahaja dalam sebuah rantai impian.
Aku dan kamu, kita selalu bahagia. Dalam canda kuselipkan cinta diam-diam. Cinta tak berucap yang aku harap dapat terbalaskan. Walaupun aku tak tau pasti kapan itu akan terjadi.
Suatu hari, aku menemukanmu sedang duduk tersenyum di bawah pohon apel.
“Aditya, kamu kok senyum-senyum sendiri?” aku mendekatimu, lalu duduk tepat disampingmu.
Melihat kedatanganku, kamu tiba-tiba saja memelukku, begitu erat sehingga aku sedikit sulit untuk bernapas. Tapi itu menyenangkan. Kamu lalu menunjukan sebuah lipatan surat putih kepadaku.
            “Apa ini?”
“Buka saja. Sudah lama sekali, dan akhirnya kesampaian juga” kamu lalu tersenyum begitu lebarnya hingga sederet gigi putihmu tergambar indah.
            Kira-kira apa yang membuatmu sebahagia itu? Sebuah surat? Tapi apa isinya? Apakah ini sebuah surat cinta? Apakah ini surat cintamu? Untuk aku? Apakah ini secarik kertas berisikan perasaanmu kepadaku? Aku bertanya pada gerangan.
            Tanganku gemetaran membukanya. Entahlah, aku hanya berharap sesuatu yang baik.
            “Be-beasiswa? Kamu dapat beasiswa!!? Ke l-lua negeri?!!!” Aku berteriak dan tersentak kaget.
            “Iya!!! Sudah lama aku mendambakannya! Aku berhasil Nania! Aku seneng banget!!” Adit lalu melompat dari tempatnya dan memelukku lagi. Namun kali ini lebih erat. Aku lalu membalas pelukan itu.
            Dalam sebuah pelukan kecil aku menangis terharu. Walaupun isinya tak seperti yang aku bayangkan, namun aku sudah benar-benar bahagia dalam keberhasilanya meraih beasiswa ke negeri orang, itu pencapaian yang sangat luar biasa. Aku bahagia dalam bahagianya.
            “Jadi itu berarti kamu akan pergi?” tanyaku memelas.
            “I-iya..” dia sedikit ragu menjawab.
            “Kapan kamu pulang?”
            “Aku tak tau, mungkin 4 tahun lagi”
            “Mengapa begitu lama?” aku sedikit menggigit bibirku
            “Karena kita membutuhkan waktu yang lama untuk belajar”
            “Tapi kamu tetap akan kembali ke sini kan?”
            “Iya aku janji” dia lalu mengangkat kelingkingnya, demikian hal nya dengan aku. Kami berjanji kala itu. Untuk kembali ke tanah ini, sekitar 4 tahun lagi.
Dalam bahagia akupun bersedih. Aku berusaha menghilang dari perasaan yang mulai menggelitik semakin merajam. Namun semakin lama justru aku semakin sulit tuk bernapas dan bergerak dalam ruang hati yang terkunci oleh cinta yang bersembunyi.
Diam-diam aku menyukaimu. Entahlah, apakah sama halnya dengan dirimu ataukah justru sebaliknya? Kamu pernah berkata padaku “Kamu boleh kok anggap aku sebagai kakak kandungmu sendiri, walaupun umur kita sama”. Tapi bagiamana jika aku menganggapmu lebih? Bolehkah? Jika tidak boleh, lantas bagaimana jika semuanya telah terlanjur? Aku sudah terlanjur jatuh cinta karena hatimu. Aku selalu ingin berada di dekatmu, selalu.
Cinta itu semakin membesar dan memenuhi seluruh ruang jiwa. Aku tak berani berucap dalam jujur. Walau aku tau dimanapun kita bersembunyi cinta tetap akan menemukan kita. Tapi aku tak berharap cinta akan menemukanmu kala itu. Dan taukah kamu? Aku berhasil, aku memenangkannya! Cintaku berhasil aku sembunyikan. Cinta yang aku milikipun tak mampu menemukanmu. Yah tentu saja karena cinta itu nampaknya tak bisa melangkah sejauh langkahmu meninggalkanku.  
Aku tak pernah bersedih dan menghakimi Tuhan atas perpisahan kita. Aku justru berterimakasih kepada-Nya atas kepintaran yang telah dianugerahkan kepadamu sehingga kamu bisa mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri dengan standar mutu yang lebih baik. Hingga saat ini, setelah kamu pergi meninggalkan tempat kita, aku tak pernah tau kejelasan atas perasaanmu kepadaku. Tapi tak apa, aku akan menunggu dengan setia.
***
Setiap malam bintang menghujan langit hitam. Kelap-kelip yang selalu kita lihat bersama kini hanya mampu aku nikmati seorang diri. Aku masih mencintai tanah ini, tempat masa kecil kita yang telah memberikan berjuta kenangan. Setidaknya disinilah Tuhan pernah mempertemukan kita, walaupun di tempat ini pula kita dipisahkan.
Terlalu banyak pertanyaan berputar dan bermuara pada otakku saat ini. Kamulah tersangkanya. Kamu penyebab dari kepusingan dan kegundahan yang selalu aku rasakan. Bagaimana dengan keadaanmu? Seperti apa sekolahmu di sana? Bagaimana dengan teman-teman barumu? Bagaimana dengan hobbymu? Masih samakah? Masih ingat dengan aku? Ah.. mungkin saja kamu sudah lupa. Aku hanya kawan kecilmu yang tidak terlalu istimewa. Aku hanya seorang gadis kecil berkuncir dua yang sulit untuk mengikat tali sepatunya sendiri. Aku hanyalah seorang gadis yang suka ngambek kalau direbut permen lolinya. Aku hanya gadis kecil dengan segala sifat kekanak-kanakannya. Aku hanya gadis kecil yang menyukai warna merah muda dan boneka teddy. Aku adalah seorang gadis kecil yang tak pantas namun telah lancang untuk menyukai … dirimu. Maafkan atas kelancanganku ini.
Aku sempat menduga kamu telah melupakan semuanya, tentang kita dan tempat ini. Aku sempat mengira kejeniusan otakmu telah benar-benar membawamu pada dunia yang berbeda. Dunia tempat tinggalmu, penuh dengan kemudahan teknologi yang berisikan orang-orang brilliant. Duniamu yang baru, aku takut telah mengubah kawan kecilku yang dulu.
Tapi tidak, doktrin dan segala pikiran ngawurku yang sudah telontar sangat jauh ternyata salah. Kamu kembali pulang. Kamu kembali ke tempat kita, sayang. Aku tak ingin melepaskanmu kali ini. Tidak lagi, kamu jangan pergi lagi. Jika kau temui seseorang yang pertama kali menangis disaat kepergianmu, maka itulah aku.
“Kenapa kamu gak bilang-bilang aku dulu kalau kamu mau datang?? Kan biar aku bisa siapin makanan-makanan enak. Aku udah bisa masak loh?” Aku tersenyum lebar, mengacungkan jempol kananku mantap.
“hehehe, aku cuma mau liburan aja. Aku mau memberitahukanmu sesuatu. Yah hitung-hitung mau ngasih surprise aja” Angin berhembus lembut diiringi tawa manisnya yang merekah indah.
“Surprise? Apa itu?”
“Itu artinya kejutan” Jawabnya santai.
“Oh haha. Oke Kejutan. Kamu emang udah bener-bener ngejutin aku banget. Tapi jujur aja aku seneng dengan kehadiranmu” Aku berucap dengan entengnya, tanpa menyembunyikan apapun yang ingin aku katakan.
“Haha.. eh anyway aku mau ngasih tau kamu sesuatu loh? Sesuatu yang special banget!”
“Apa Dit?”
“ada deh, hehe bukan sekarang”
“Ih kamu ini bikin penasaran deh. Kapan dong?”
“um entar deh aku hubungin kamu lagi”
Mungkinkah? Hal yang ingin dia sampaikan padaku itu merupakan jawaban dari penantianku selama ini? Apakah setelah 4 tahun kita dipisahkan Tuhan? Dan inikah hasilnya? Inikah takdirMu Tuhan? Benarkah? Jantungku berpacu kuat, sekuat rusa yang berlari kencang, menghindar dari busur panah.
“Hey Nania, kamu ngelihatin apa sih? Kok bengong gitu tiba-tiba. Haha masih sama aja kayak dulu, sukanya bengong wae” Aditya lalu megacak-acak pelan rambutku, sesuatu yang sangat aku sukai dari dia. aku seperti merasa… di sayang?
“Ah enggak hehe” jemariku mulai memainkan gerakannya, merapikan rambutku yang sedikit berantakan dalam frekuensi tetap selama beberapa detik.
“Oh iya besok pagi aku mau pergi ke air terjun nih”
“Kamu mau ngajakin aku gitu maksudnya? Ya ampun pipiku jadi memerah malu.
“eh, iyah? Sebenarnya.. ada yang ingin aku tunjukan padamu disana
“Ada apa? Kok kamu..”
“ah enggak papa, besok pagi jam 8 aku jemput kamu ya? Aku udah lupa soalnya jalan menuju kesana  makanya kamu ikut aku ya?” Aditya menggaruk pelan kepalanya.
“oke hehe”
Ya Tuhan, aku tidak sabar. Sudah lama aku menanti-nantikan kesempatan seperti ini. Teman kecil yang Engkau pertemukan kembali. Betapa beruntungnya aku.
Langit berangsur-angsur menunjukkan efek tyndal. Warna biru telah tergantikan menjadi orange lalu kemudian hitam memenangkan semuanya, kembali memakan langit dan terselimut gelap malam.
Semalaman aku sulit untuk tertidur. Mengapa jam berputar sangat perlahan? Ayolah! Ingin rasanya aku menendang setiap jarum jam yang bergerak per detiknya. Agar dia semakin cepat! Agar aku bisa beremu Adit lagi, aku kangen ya Tuhan.
Sedikit demi sedikit aku terbuai jauh masuk melampaui batas alam sadar manusia. Aku tertidur.
***
“Nania, kok siap-siapnya lama sekali kamu? Ayo buruan, sudah di tunggu Adit di depan tuh” Bapak berteriak dari arah ruang tamu. Suaranya terdengar dengan sangat jelas sampai di kamar.
            “Iya Pak, bentar lagi Nania keluar kok” Aku berusaha menyahut seruan itu.
“Ah tidak apa-apa kok pak, pelan-pelan saja” Terdengar pelan suara Aditya yang berkata kepada Bapak. Lalu keduanya tertawa.
Aku lalu keluar kamar. Memakai baju short dress biru bermotif bunga-bunga. Tidak, kali ini bajunya tidak seperti anak kecil. Umurku sudah 18 Tahun, tidak lagi berbaju short dress pink dan berkuncir dua.
Kami lalu menaiki mobil Aditya. Sepertinya dia memang telah lupa arah jalan menuju air terjun. Padahal dulu dialah kompasku, penunjuk jalan kemanapun kami ingin bepergian. Yah waktu memang memiliki kemampuan dan kekuatannya sendiri dalam mengubah seseorang, mengubah ingatan, karakter dan pola pikir, apapun itu. Sepertinya sekaranglah giliranku, penunjuk arah ke salah satu tempat favourite kami dulu. Tak heran, memang sudah cukup banyak perubahan di sini, selain akses jalan yang sudah lebih bercabang. Tapi sebenarnya tak jauh berbeda.
Sepanjang perjalanan Aditya memang sibuk menyetir dan bertanya arah padaku. Tapi ada satu hal yang sedikit mengusikku. Dia juga terlihat begitu sibuk dengan hapenya, tertawa dan tak henti mengutak- atik setiap tuts mungil itu menggunakan tangan kanan semntara tangan kirinya tetap menyetir. Aku hanya bertanya – tanya, memangnya hal menarik apa yang ada dalam kotak elektronik kecil itu?
***
“Akhirnya sampai! Kok rasanya jauh ya? Padahal waktu kecil dulu serasa cuma berjalan kaki lima menitan doang hehe” dia menarik napas dalam dan menghembuskan, dalam.
“Haha, itu karena kita menikmati setiap langkah kita dulu. Kita juga menikmati setiap waktu yang berlalu hingga lelah tak pernah terasa begitu nyata” iya, aku memang menikmati semuanya, terutama.. terutama saat bersama kamu Adit. Ah andai kamu tau.
“iya iya mungkin kamu benar. Setuju banget aku” dia tersenyum.
Wajahnya masih sama, tak satupun berbeda kecuali goresan pada lekukan pipinya sedikit lebih banyak dan raut wajah yang telah lebih dewasa.
Dari kejauhan terdengar suara seorang cewek yang memanggil nama Aditya. Nampak seorang cewek yang baru keluar dari sebuah mobil hitam mewah. Cewek itu cantik. Benar-benar bergaya ala cewek metropolitan. Rambutnya sepanjang pinggang, hitam lebat dan sedikit bergelombang. Kulitnya putih dan bersih. Dia memakai celana jeans selutut, kaos putih polos yang dilapisi rompi hitam dan kalung dengan leontin berbentuk hati yang setiap ujungnya seperti dilapisi intan-intan kecil dan di bagian dalamnya terdapat huruf A&N. indah sekali kalung itu. Dia berjalan perlahan, terlihat sangat anggun walaupun dengan style seperti itu di tambah lagi sepatu kets putih di kaki. Dia menggantungkan tas kecil di tangan kirinya lalu menghampiri Adit dan merangkulnya.
Aku tersentak kaget. Berani sekali cewek itu. Apakah dia… ah tidak mungkin. Aku tidak mau berpikir hal-hal yang buruk.
“A-adit..”
“Oh iya Nania, ini Nayla”
“H-hai Nayla. Aku Nania” kami lalu berjabat tangan. Tangannya lembut. Sepertinya dia tak pernah memegang benda kasar, tak mungkin.
Aku masih terpesona padanya. Dia seperti sosok cewek yang, sempurna. Dan jika aku bandingkan dengan diriku, tak mungkin kami sebanding, tak mungkin selevel, tak mungkin sama! Tak mungkin. Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Masalah kecantikan, teralu banyak cewek cantik yang pernah aku lihat di televisi walaupun dia salah satunya. Tapi, mengapa rangkulannya terlihat begitu mesra? Aditya justru membalas untuk merangkul leher panjang dan ‘wah’ nya itu. Aku cemburu! Wajahku memerah! Tidak boleh Adit! Kamu tidak boleh sedekat itu. Setidaknya kamu tidak boleh seperti itu di depanku.
Nania bodoh! Tak tau dirikah kamu? Hah, berani sekali. Memangnya ada hak apa aku ini? Aku bukan siapa-siapanya. Iya! Aku bukan siapa-siapa kamu Adit! Aku aku tak tau diri! Tapi sakit… sakit sekali.
“Nania, ada apa?” Adit menaikkan alis kanannya, memperhatikanku.
“A-ah eng-enggak kok” aku menunduk.
“Ini dia surprise yang aku maksudkan” Adit menepuk pelan pundak cewek yang bernama Nayla itu.
“Aku tunangan Adit” Nayla menggoreskan senyuman manis di bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda.
Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak. Dadaku berhenti kembang-kempis. Bola mataku hampir meloncat keluar. Lidahku kaku. Tanganku membeku. Tubuhku tak serasa lumpuh!
            “Ja-jadi kejutannya…”
“iya tanggal 23 November nanti kami akan menikah. Aku ingin memperkenalkan seluruh kehidupanku dulu kepada dirinya” katanya. “Termaksud kampung halamanku, dan kamu. Pokonya semua masa kecil dan hal-hal yang mencangkup tentang aku deh! Hehe” dia lalu tertawa.
Masa lalumu. Iya benar, aku memang hanya sampah masa lalumu. Dalam tawa yang sedang menghiasi wajahmu, aku menangis. Tak ada lagi kisah indah yang aku bayangkan akan terjadi setelah kedatanganmu. Tak mungkin lagi segala hal dan kejadian kita dulu akan terulang.
Kalian lalu bermain air terjun bersama. Setiap air yang menetes, embun yang dihasilkan, tawa yang merekah, bahagia yang terlukis jelas… kalian memang sangat serasi. Aku lebih memilih duduk sendiri. Dari kejauhan aku hanya mampu melihatmu. Dari kejauhan aku hanya mampu memanggil namamu dalam diam. Dari kejauhan aku mampu mencintaimu. Hanya dari kejauhan aku mampu memandangimu. Dari kejauhan aku menangisimu. Dari kejauhan cintaku rasanya telah hanyut. Terbawa air terjun yang jatuh dari ketinggian 20 meter itu.
Tak seorangpun tau aku bersedih. Tak ada yang menyadari aku menangis. Di atas batu besar aku sandarkan kesedihanku sendiri. Percikan air terjun telah menyatu dengan air mataku, tak mungkin ada yang mampu membedakan antara mereka, baguslah. Dalam sedu aku tersenyum saat kau menoleh padaku. Tak maksud aku menghancurkan kebahagiaan kalian. Tidak. Mencintai diam-diam selalu terasa sakit. Apalagi jika orang yang kita cintai tak pernah sadar kalau kita mencintainya dan justru lebih memilih untuk mencintai orang lain. Cinta yang di pendam itu tidak lebih baik, Karena cepat ataupun lambat, cinta itu mampu membunuh mereka yang masih saja memendamnya.
Memendam cinta, sakit bukan main. Rasanya hatiku hancur berkeping-keping. Mengapa engkau harus datang lagi? Jika selanjutnya aku tau kau akan pergi dan meminang wanita lain. Mengapa aku harus jatuh cinta padamu? Mengapa aku begitu yakin pada perasaanku bahwa kamulah masa depanku? Padahal bukan! Mengapa kali ini Tuhan memberiku cobaan yang mampu menyayat perasaanku hingga ulu hati? Sakit sekali! Iya sakit! Mengapa aku harus cinta padamu? Jadi sia-siakah penantian panjang yang telah aku lakukan? Hilanglah sudah waktu berhargaku, menunggu sesuatu yang justru menyakitkanku.
Jadi jelas sudah. Aku mengerti rasanya, KETIKA DIA YANG AKU HARAPKAN UNTUK MASA DEPANKU, TERNYATA BUKAN DIA.

KARENA MENUNGGU ADALAH KEAHLIANKU

Hatiku selalu bahagia saat aku mampu berada didekatmu. Aroma parfum yang selalu setia menciumi setiap inchi tubuhmu bahkan masih mampu aku rasakan. Setiap cerita dan kisah yang terlewati masih mampu aku lihat dengan jelas dalam memory pikiranku. Otakku masih mampu mengingat kalimat demi kalimat istimewa dari kamu. Setiap sudut sekolah memang tetap saja membisu. Ah tapi sejujurnya membisu dalam kesaksian cinta masa SMA yang pernah kita rajut bersama. Kamu dengan segala tingkah aneh dapat aku terima. Aku tak mampu membohongi diriku tentang perasaan ini. Jangan tatap mataku! Jangan! Tatapanmu terlalu dalam, aku tak mampu. Aku tak pernah berbohong atas apapun, setidaknya semua itu terpancar dari jendela hati ini bukan? Aku selalu mengingat saat kamu masih di sini. Kelas dan tingkatan kita memang berbeda. Aku bahkan tak pernah menyangka bisa mendapatkan orang seperti kamu. Terpaut  tiga tahun memang cukup jauh, walau tak sejauh jarak Surabaya-Jayapura seperti yang sedang kita hadapi sekarang.
Awalnya memang berat, berat sekali melepaskan kamu pergi demi kelulusanmu, demi masa depanmu. Kali ini aku tak mau egois. Karena memang tak seharusnya seperti itu. Aku belajar banyak dari kamu. Walaupun waktu mempertemukan kita hanya sebentar, namun bukan sekejap. Aku ingin menjadi dewasa, bukan lagi gadis cengeng yang tak mau melepaskan seseorang pergi seperti “dulu”, walaupun aku belum mampu untuk benar-benar menjadi seperti itu, setidaknya aku sedang berusaha. Lantas aku ingin di saat kita bertemu nanti kamu bisa melihat aku menjadi sosok yang lain. Aku tak ingin merubah diriku menjadi orang lain, hanya sikapku saja. Aku ingin lebih dewasa, semoga bisa.
Tanggal 21 April kamu pergi bukan? Yah, aku ingat tanggalnya. Aku masih ingat detail kenangan berharga itu. Malam sebelum kepergianmu kita duduk bersama di lapangan basket. Hanya beratapkan langit hitam yang bertabur ribuan bintang. Malam itu, bintang memang benar-benar indah dan cerah. Aku memang suka melihat bintang, sungguh. Ternyata kamu demikian. Bintang adalah benda angkasa yang paling aku gemari ketimbang teman-temanya, matahari dan bulan. Kamu menemaniku, disela-sela waktu bimbel malam yang menyebalkan. Udara dingin membuatku mengantuk dan beberapa kali menguap. Dia masuk menembus kulit tipisku. Namun aku tak mau terjatuh dalam mimpi serta melewati malam ini. Setidaknya aku tak sedang bermimpi duduk melihat bintang bersama orang yang aku sayang bukan?
Tuhan jangan percepat waktu kami. Malam ini, aku ingin waktu terus berhenti, jangan bergerak! Jangan merangkak pasti! Aku tak ingin menunggu esok pagi tiba. Esok pagi saat dirimu telah pergi dari SMA. Esok pagi saat aku temui kosong dan hampa pada setiap sudut sekolah. Aku tidak mau! walau aku tetap harus menurut.
Kali ini tidak lagi. Tidak apa, aku harus pahami kondisinya saat ini. Ya Tuhan aku hanya berharap. Secerca harapan yang lebih dewasa. Bukan waktu yang akan berhenti, teruslah ia berjalan  bersama dengan egonya. Biarkan waktu tetap berputar pada porosnya seperti bumi berputar mengelilingi matahari selama 365 hari.
Suatu saat nanti kita tetap akan bertemu bukan? Aku percaya. Semua akan indah pada waktunya. Kita sebagai makhluk kecil yang diciptakan Tuhan hanya mampu menunggu dalam sabar, diam merejam dalam gelisah keegoisan penantian. Karena Tuhan tau yang terbaik bagi umatnya. Karena Allah memiliki rencana yang lain untuk kita. Bahkan walaupun kita hanya dipertemukan dalam waktu yang singkat dan lalu kembali dipisahkan. Akan ada cerita baru yang lebih indah. Kita hanya butuh bersabar. Seperti katamu, “Karena menunggu adalah keahlianku”.

KARENA TUHANLAH SANG SUTRADARA


KARENA TUHANLAH SANG SUTRADARA
“Ada empat teori mengenai kisah cinta dalam kisah ini; 1. Ketika suatu hubungan tak selamanya berakhir indah; 2. Karena penantian tak selalu memberi hasil sesuai yang diharapkan; 3. Di saat kamu letih dalam menanti, disitulah cinta memberi kekuatan untuk bertahan; dan 4. Hubungan jarak jauh tak selamanya berhasil”

Di Tulis Oleh :
NILUH AYU MUTIARA ARIYANTI


Pagi yang cerah datang lagi. Matahari telah tersenyum indah. Bola penuh sinar itu menyapa Nessa mesra melalui berkas-berkas cahaya hangat yang dipantulkan menembus kaca jendela kamarnya dan memantul pada lekukan pipih yang merekah. Nessa tak membalas sapaan manja itu. Nampaknya dia jauh lebih bersahabat dengan hujan yang mengguyur deras dan membasahi bumi tadi malam. Hujan rintik-rintik di matanya memang sudah mulai mengering, namun masih tersisa kesedihan dan kegalauan hati yang tersirat dari kedua kelopak mata kemerah-merahannya yang mulai membengkak sejak tadi malam.
Semalaman dia memang tertidur. Dia lelah, menangis memikirkan kelanjutan kisah hubungan percintaannya yang tidak berjalan semulus kisah dalam dunia khayal. Kisah mengenai seorang putri bersama sang pangeran tampan yang selalu berakhir bahagia. Kisah tentang dongeng fiksi yang selalu menghiasi pikiran anak – anak kecil sebelum mereka terlelap dalam tidurnya. Dia tau bahwa kisahnya berbeda. Dia sadar akan hal itu, tentu saja. Karena kisah cintanya memang bukan cerita dongeng, bukan suatu karangan imajinasi manusia dengan tujuan sebagai hiburan, bukan juga cerita bohongan tentang kehidupan para remaja. Ini kisah nyata! Kisah dimana Tuhanlah yang bertindak sebagai sang sutradara. Ini kisah di mana Nessa dan orang yang dicintai adalah pemeran utamanya, pemeran yang tak dapat melakukan apa-apa selain ber-akting mengikuti apa yang Tuhan kehendaki, apa yang Tuhan mau dan inginkan sebagai penguasa yang berhak mengatur semuannya.
Sore ini mereka telah berjanji untuk saling bertemu.
“ Bentar sore di café Antlas aja.” Nessa memutuskan. “Kayaknya bakal lebih nyaman kalau kita ketemuan di sana… Iya jam 4” percakapan singkat itu lalu terputuskan.
Seharian penuh Nessa selalu di kejar oleh bayang-bayang sang pacar, Dion. Dia benar-benar menunggu kehadiran Dion, wajah yang penuh senyum datang untuk menjemputnya untuk yang pertama kali. Nessa membayangkan, pikiran yang melambung jauh setinggi-tingginya yang dapat ia lakukan. Membayangkan seperti adegan-adegan sinetron yang ada di televisi. Ini yang pertama untuknya. Dia tak pernah berpacaran sebelumnya, dia tak pernah jatuh cinta, apalagi untuk dijemput seorang cowok di depan rumahnya? Betapa ini sangat ia nanti-nantikan.
“Aku pakai bando ungu aja deh, biar matching sama rompi baju .. hm” dipandangi pantulan bayangan dirinya di depan kaca, berputar-putar melihat kemolekan tubuhnya.
Jam masih menunjukkan pukul 1 siang, sementara waktu janjian adalah jam 4 sore.
Nessa lalu berbaring di atas tempat tidurnya. Tak sampai 10 menit kemudian ia lalu tertidur dengan pakaian dress ungu-putih dan bando berhias pita ungu di kepalanya. Tiga setengah jam kemudian barulah Nessa terbangun. Ia kaget bukan main setelah melihat jam yang sudah menunjukkan hampir pukul setengah lima sore. Nessa tau bahwa Dion tak pernah terlambat dalam hal janjian. Dia lalu melompat dari kasurnya, membawa tas kecil di samping tempat tidur dan bergegas pergi. Dia lupa berpamitan pada orang tuanya, dia bahkan lupa untuk membawa hapenya.
Tepat pukul 6.30 bel rumah Nessa berbunyi.
“Nessa, kenapa kamu baru pulang? Mana Dion sayang? Kenapa mama telepon kamu tapi gak di angkat-angkat? Kenapa kamu lusuh sekali? Kamu kenapa? Ada masalah apa?” Mama terlihat cemas sekali.
“Hape Nessa ketinggalan tadi, Nessa gak tau kenapa Dion gak nepatin janji” dia hanya menjawab seperlunya.
“Jadi kamu ditinggal gitu aja? Dibiarin menunggu? Kenapa Dion seperti itu?” Seolah-olah ada seribu pertanyaan yang harus segera Nessa jawab saat itu.
“Nessa capek ma, Nessa lagi malas cerita apa-apa sekarang. Nessa pengen istirahat.” Nessa lalu menyerobot masuk kamar dan mengunci pintu. Mama selalu tau saat di mana Nessa benar-benar tak ingin di ganggu jadi mama hanya membiarkannya beristirahat dari segala kepenatan.

Sehari sebelumnya Nessa sempat bertemu dengan Hana sahabatnya di taman kota dekat rumah Hana. Mereka sempat berbicara banyak. Mereka berbicara mengenai hal yang sudah terlewatkan di masa lalu, entahlah menyadarkan atau malah mempengaruhi Nessa tentang doktrin yang berbeda.
“Aku galau Han, aku gak yakin bisa ngomong kayak gitu sama dia!” curhat Nessa kepada sahabatnya Hana.
“Tapi apakah kamu mau selalu kayak gini? Kamu mau selalu nungguin dia dan ngehabisin masa SMA mu hanya buat nunggu sesuatu yang gak pasti? Kamu yakin? Kamu yakin kamu mampu Ness?” Ucap Hana sembari menatap dalam ke arah Nessa.
“Ya.. ya enggak sih. Aku gak kuat kayak gini terus. Udah dua tahun Han, 2 tahun aku gak pernah dekat sama cowok lain, aku gak pernah ngerasain gimana pacaran secara nyata! Maksud aku, aku gak pernah dapetin perhatian, ditemenin, natap wajah dia, berbincang, cerita sama-sama, jalan bareng, semua gak pernah aku rasain secara langsung! Aku pengen ngejalanin hubungan dengan orang yang bisa selalu ada buat aku, nemenin aku.. bukan hanya bisa jadi “Pacar Via Mobile” kayak gini! Aku kadang iri lihat pasangan lain yang bisa selalu sama – sama. Mereka yang bisa nyelesaikan masalah mereka dengan ketemu dan berbincang langsung, gak kayak aku!” Tersirat jelas bahwa Nessa sedang kesal dan kecewa.
“Yah, aku tau. Ini semua tergantung kamu. Kalau kamu yakin kamu masih sanggup menunggu dia dan gak mau ngelepas dia, kamu boleh aja menunggu kok. Itu gak salah, terus setia sama dia seperti ini. Setidaknya kamu bisa memiliki orang yang kamu cinta walaupun dia gak ada secara nyata di mata kamu. Tapi…” Hana terdiam sejenak, sedikit memalingkan wajah dari Nessa dan berpikir sejenak.
“Tapi apa?” Nessa ingin tau, penasaran dengan hal yang akan diucapkan Hana selanjutnya. Dia lalu menggengam tangan Hana. “Tapi apa Hana? Bilang aku” dia memperjelas pertanyaannya sekali lagi. Genggaman tangannya semakin erat.
“Tapi aku takut Nes, aku takut kamu bakal kecewa”
“Kecewa bagaimana maksud kamu?” Kening Nessa mengkerut, dia semakin tak kuasa menahan rasa penasaran di batinnya itu.
“Aku, aku gak mau kamu kecewa kalau nanti penantianmu bakal sia-sia. Aku gak bermaksud mendoakan, mencap, memberi label,mempengaruhi pikiranmu atau.. atau apapun itu. Fine – fine aja kalau emang bener ternyata Dion adalah sosok pria yang akan menemani hidupmu nanti, kalau emang benar dia itu jodohmu di masa depan. Tapi kalau bukan bagaimana? Apakah kamu yakin bakal menghabiskan semua massa SMAmu hanya buat ngenal satu cowok aja? Hanya buat menunggu dia? Hidup ini masih panjang untuk mengenal yang lainnya” kata-kata itu membuat Nessa terdiam sejenak. Seolah-olah ada pisau belati tajam yang telah tertancap menembus ulu hatinya.
“T-tapi.. itu terlalu jauh Han, aku gak bermaksud sampai..”
“Iya aku mengerti. Coba kita pikir saja hal terburuknya. Oke mungkin itu memang pikiran yang terlalu jauh. Sekarang apa kamu benar-bener yakin kalau dia bakal setia di sana? Apa dia gak bakal deket-deket sama cewek lain? Apa dia gak bakal membuka hati untuk mengisi kekosongan dengan cewek lain? Kamu yakin?” hiliran angin sore yang dingin lalu memainkan rambut-rambut halus mereka berdua.
“Sebenarnya, tidak. Tapi aku mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa dia.. bahwa dia setia sama aku di sana. Setidaknya dia harus setia! Karena aku di sini lagi nungguin dia, karena aku di sini setia sama dia, jadi dia juga harus kayak gitu!” Nessa memang egois dalam hal seperti ini. Dia hampir saja menangis. Dadanya terasa sesak. Rasanya asma tiba-tiba telah menyerangnya. Tapi itu bukan gejala penyakit asma, melainkan penyakit lain yang disebut ASMAra yang gagal sukses, gagal bahagia.
“Kamu ingat hal yang kamu ceritakan padaku? Mungkin sudah sekitar sebulan yang lalu” Hana berusaha mengingatkan sesuatu.
“Mengenai apa?” rasanya Nessa memang selalu lupa tentang hal yang pernah ia ceritakan pada sahabatnya itu. “Banyak yang sudah aku ceritakan sama kamu kan? Sebulan yang lalu? Aku tak ingat” dia melanjutkan.
“Dion, beberapa saat setelah kalian putus untuk yang kedua kalinya, dia langsung punya pacar baru bukan? Kamu bahkan tidak tau..”
“Aku tau setelah kita balikan, setelah teman sekelasnya menceritakan hal itu” Nessa nampaknya sudah berhasil mengingatnya.
“Kamu justru mengetahuinya dari teman sekelasnyakan? Yah tak aneh juga kalau temannya hanya mengada-ada, tapi buruknya setelah kamu klarifikasikan sama Dion dia justru membenarkan tanpa mengelak dan.. tanpa benar-benar merasa bersalah sedikitpun!”
“Mengapa dia harus merasa bersalah?he-he. Aku bercanda. Itu berarti dia mudah move on kan dari aku? aku tau, perasaannya ke aku dengan perasaanku ke dia memang tak sama. Kadar sayang kami bereda, aakah aku lebih banyak? Tapi.. dia bilang dia gak sayang sama cewek itu, dia hanya nembak Riny karena diajakin taruhan sama teman cowoknya..” Nessa sedikit ragu mengatakan hal itu. Dia menggigit bibir mungilnya pelan.
“Apa?! Jadi hanya untuk taruhan!? Kenapa kamu gak ngasih tau sama aku alasan itu? Itu berarti kan dia juga punya niat untuk mainin cewek! Dia jahat, dia seharusnya gak boleh lakuin itu. Terus sekarang setelah dia ngerasa gak nyaman sama si Riny, dia dengan mudahnya minta balikan sama kamu? Begitu? Dan kamu mau aja?” Hana sedikit kesal, dia memang tak pernah suka sama cowok yang suka mainin perasaan cewek.
“Itu karena aku gak tau Han! Aku kan udah bilang kalau aku baru tau dari temen sekelasnya, itupun setelah kita balikan. Jadi aku harus gimana?” Ucapan itu lirih, Nessa lalu mendesah dan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi taman yang panjang, tempat dia dan Hana duduk.
“Enggak, kali ini kamu yang harus mutusin sendiri. Entahlah menurut kamu yang mana yang terbaik aja buat kamu. Aku takut dia gak setia di sana, sementara kamu terus nungguin dia kayak orang ngemis-ngemis cinta gak pasti gini. Ih males deh punya sahabat yang kasihan gini hehe” candaan itu terlontar begitu saja.
“Iihhh Hana ini! Nessa cubit nih!” Nessa lalu mencubit pelan perut sahabatnya dan tertawa. Kali ini sesak di dadanya mulai sedikit berkurang.
“Hehehe… ya udah, aku yakin kamu bisa mutusin hal yang terbaik buat kamu. Eh ngomong-ngomong kamu belum makan siang kan? Mama aku lagi masak papeda panas loh, pake ikan kuning lagi! Wiih sedep deeehhhh…” Hana mengacungkan jempol kanannya, bersemangat.
“Ih tau aja kamu! Aku laper berat nih… hehehe”
Sore yang manis, semburat warna jingga memecah langit biru yang selalu berkapas. Bola cahaya raksasa hampir saja pulang, ia sudah berada di kaki cakrawala. Dua insan manusia yang saling berjanji dalam satu ikatan, yaitu persahabatan, nampak saling berangkulan. Mereka yang penuh dengan kasih antara sesama saling bercanda menembus angin-angin sore yang menari-nari menerbangkan dedaunan kering di taman. Mereka saling memahami, saling mengerti satu sama lain. Betapaa indah persahabatan yang yang telah terajut lembut.  
***
Jalan Cempaka nampak begitu padat. Asap-asap polusi tak pernah mau kalah bersaing dengan padatnya kendaraan yang berhilir-mudik dalam dua arah. Semuanya sibuk, iya semua sibuk dengan kegiatan dan keperluan masing-masing. Sore hari selalu saja indah. Burung-burung camar yang terbang setinggi 15 kaki nampak bergerombol pulang kea rah Barat. Namun Nessa tak kunjung pulang walaupun hari sudah semakin sore.
Dia masih setia menunggu untuk yang kedua kali. Namun Dion tak kunjung datang pada janji yang kedua ini. Bahkan ini telah lewat 2 jam dari waktu janjian. Nessa benar-benar kesal. Jemrinya tak pernah henti mengutak-atik handphone balckberrynya, menunggu telpon atau setidaknya sms balas dari Dion.
“Kenapa kamu tak kunjung datang!” Dia kesal, Nessa marah dan kecewa. Dia semakin ragu dengan penantian yang sudah dilakukannya selama ini, selama mereka memiliki hubungan jarak jauh. Nessa takut Dion akan pergi jauh hingga dia lupa dengan dirinya, lalu tergantikan oleh sosok cewek lain di sana.
Jam 17.19, tepat dua jam lebih 19 menit Nessa menunggu. Dari kejauhan sosok cowok yang Nessa nanti-nantikan sejak tadi akhirnya muncul juga. Dion muncul dengan mengendarai motor mio merah, helm hitam, dan jaket berwarna biru muda. Pakaiannya terlihat keren di tambah lagi sepatu kets dan celana setinggi lutut.
“Kenapa kamu baru datang!” Nessa langsung marah dan menunjukkan ekspresi tidak suka.
“A-aku … aku tadi jemput kamu. Dulu waktu kamu masih SMP, katanya kamu gak berani sama mama dan papa kalau misalnya ada cowok yang datang untuk jemput kamu keluar. Makanya aku hanya nungguin kamu di pinggir toko Cemerlang Mart, berharap kita ketemu dan bisa jalan bareng.. tapi kamu kok gak ada? Kamu kok gak kelihatan?” Dion berusaha menjelaskan.
“Bodoh banget sih kamu! Harusnya kamu kasih tau! Aku kan gak mungkin tau kalau kamu diem-diem kayak gini! Lagian itu kan waktu aku masih SMP, sekarang aku udah SMA woy! Udah gede! Orang tua aku pasti izinin lah.. kamu aja yang gak berani datang ke rumah aku, iya kan?! Alah jujur aja deh!”
“eng-enggak bukannya gitu.. aku beneran gak tau Nes, sumpah! Demi Tuhan. Kita gak pernah ngomongin masalah ini selama long distance kan? Jadi aku kira masih sama, aku gak mau kamu imarahin orang tua kamu. Aku minta maaf Nessa, aku yang salah! Aku minta maaf.. please” Selalu seperti ini. Dion memang selalu mengalah jika terjadi perdebatan di antara mereka. Nessa selalu saja menang, entahlah dia seolah-olah selalu memiliki kekuatan besar yang mampu membuat Dion tak dapat berkutik atas segala hal mengenai perdebatan pendapat mereka atau apapun itu.
“Terus kenapa hape kamu gak aktif?!” Nessa menyolot dengan membuka matanya lebar-lebar.
“hape aku baterainya habis Nes, aku gak sempat cas” Dion menjelaskan dengan nada yang tenang dan lembut.
“ah pasti kamu bohong.  Kamu ini yah, nyebelin banget! Di telpon gak bisa! Sms gak di jawab! Udah 2 jam aku nunggu kamu! Aku capek, pegel!”  telunjuk kanan cewek Bandung itu lalu digerakkan dan menunjuk-nunjuk Dion.
“Aku gak mungkin bohong soal itu, dari pagi..”
“udah lah, aku males bahasnya. Kita langsung masuk aja ke café, aku udah haus banget” potong Nessa dan tanpa berbicara banyak langsung masuk ke arah café Antlas.
Suasana di café Antlas memang sangat sesuai sebagai tempat nongkrong anak muda. Dion dan Nessa duduk saling berhadapan di sofa merah besar dekat jendela.
“Aku minta maaf udah ngebuat kamu menunggu” Dion berusaha memulai pembicaraan. Nada suaranya menunjukkan penyesalan yang amat sangat, ditambah lagi ekspresi wajah yang mengibakan jiwa.
Namun Nessa tak perduli dan justru membuang muka. Dia tetap saja asik dengan menyeduh ice chocolate miliknya.
“Ness, aku gak mau kita berkelahi. Aku gak mau kayak gini Nes. Aku minta maaf udah buat kamu nunggu aku” Dion tetap berusaha membuat Nessa memaafkannya. Dia lalu meraih telapak tangan Nessa, berusaha memegangnya. Namun …
“Udah , gak usah pegang-pegang Dion. Kamu itu emang selalu buat aku nunggu kamu! Tapi kamu? Selalu aja datang terlambat, eh malah kemarin kamu gak datang! Kamu pikir nunggu itu enak hah!” Nessa meletakkan ice chocolatenya di atas meja, mengambil tissue dan mengelap bibir merah jambunya perlahan. Setelah itu dia mendesah dalam.
“Waktu itu aku gak datang karena mama aku minta tolong anterin berobat Ness, aku udah sms kamu kan? Kemarin. Aku udah siap bahkan setengah jam sebelum waktu janjian kita. Tapi tiba-tiba mama aku pingsan di dapur, mama aku sakit Nes, aku gak mungkin ninggalin mamaku seperti itu karena saat kejadian Cuma ada aku dan adik ku yang masih 9 tahun. Aku udah sms kamu, aku bahkan telpon kamu saat di rumah sakit. Tapi kamu gak angkat-angkat. Aku minta maaf Nes” Wajah Dion, segala penjelasannya tak kunjung membuat Nessa sudi member maaf.
Sebenarnya Nessa tak mampu menatap mata permohonan maaf Dion yang terlewat nanar. Namun dia keburu kesal karena selalu saja dia harus menunggu Dion.
“sms itu, aku gak baca. Aku kesal sama kamu kemarin makanya setelah tau kamu sms, tanpa membuka inbox baru, langsung saja aku hapus. Aku minta maaf aku gak tau kalau itu alasanmu” Nada bicara Nessa mulai memelan.
“Iya, gak apa-apa.. aku juga mau ngasih tau. Baterai aku habis dan gak sempat ngecas karena sejak pagi aku pergi, aku siapin barang-barang untuk nanti…” Dion tak melanjutkan.
“Maksudnya untuk nanti apanya?” Nessa berhasil di buat penasaran oleh Dion.
“Bentar malam aku mau berangkat” kata-kata itu seolah-olah membuat tameng air mata Nessa mulai hancur sekidit demi sedikit.
“Jadi kamu? Mau pergi lagi? Ninggalin aku lagi? Biarin aku sendiri? Jadi aku nunggu lagi gitu?”
“i-iya..” Dion terdengar ragu dalam menjawab.
Waktu seolah-olah berhenti sekejap. Nessa lalu terdiam, dia nampaknya sedang pasrah dengan keadaan. Dia lalu menerawang, menerawang jauh sekali. Semua semua perkataan Hana dua hari sebeluumnya mengingtakan sesuatu.
“Kapan kamu bakal kembali lagi?” Messa bertanya dengan nada datar.
“Aku gak tau, aku gak bisa janji” Dion menjawab ragu.
Nessa sempat terdiam lagi untuk beberapa saat.
“ Jika jawab tak juga ada, haruskah praduga jadi jembatannya? Jika sapa tak juga berbalas semestinya, haruskah diam jadi pilihannya? aku gak bisa. Aku gak bisa kayak gini terus. Aku gak bisa nungguin kamu setiap waktu. Kita pacaran udah hampir dua tahun, kamu nyadar kan? Itu bukan waktu yang sebentar. Tapi pertemuan kita secara langsung hanya bisa dihitung jemari tangan. Aku seneng kamu datang, walaupun hanya satu minggu kamu ada di sini setidaknya kamu udah datang, itu udah buat aku cukup bahagia. Itu udah cukup membuat aku dapat sedikit melepas kerinduan yang disebabkan oleh hubungan jarak jauh yang sedang kita jalani. Tapi… sampai kapan harus kayak gini terus? Aku capek! Selalu menunggu kamu, aku capek! Menunggu kedatangan kamu yang gak tentu itu, setiap enam bulan sekali, setahun sekali! Aku gak sanggup”
“apa kamu udah bosan Nessa?” pertanyaan itu, keduanya lalu saling beradu pandang.
“Iya, aku bosan. Aku gak kuat, aku gak mau LDRan lagi kayak gini. Aku hanya bisa jadi korban LDR aja, aku gak dapat apa-apa. Kamu gak pernah bisa janjiin sesuatu yang pasti. Setiap aku nanya kapan kamu datang, kamu selalu aja ragu menjawab, kamu hanya bisa nyuruh aku sabar. Tidak semua hal bisa selalu di jawab dengan kata sabar Dion” Musik di café Antlas semakin mendukung suasana, membuat hati kedua insane manusia kian bertambah galau.
“Apakah waktu hanya berjalan di tempat saja?? Dia seolah-olah merayap dari hari demi hari. Tak bisakah ia sedikit lebih cepat!” Nessa berucap kesal. “Jadi sampai kapan? Hanya sabar saja yang dapat kau berikan Dion, sabar!”
“Aku gak bisa ngejanjikan apa-apa sayang, aku Cuma bisa berjanji setia sama kamu. Dan aku hanya bisa minta kamu untuk bersabar sampai kita bisa sama-sama lagi. Bukankah kita pernah bermimpi untuk kuliah sama-sama?” pengakuan, kenyataan, kesedihan, dan kebimbangan merengsek maju untuk mencari kebenaran perasaan.
 “Aku lupa, aku lupa akan janji itu. Tapi aku capek, aku butuh orang yang bisa selalu ada di saat aku butuh. Aku mau orang yang bisa nemenin aku di saat sedih ataupun senang, yang bisa ngasih bahunya sebagai sandaran untuk tangisku. Kamu pasti tau rasanya kan? Aku sayang kamu, iya aku sayang! Aku tau kamu gak bisa janji apa-apa. Tapi kamu tau? Aku kadang mikir kalau misalnya aku terus nunggu kayak gini apakah penantianku gak bakal sia-sia?” Nessa menjelaskannya, menjelaskan apa yang dia rasa dan pendam selama ini. Semua jelas sudah.
“Iya aku mengerti. Kamu pikir aku gak mikir kayak gitu juga? Tapi aku percaya sama kamu, itu yang setidaknya buat aku bisa sedikit lebih tenang. Tapi kalau kamu gak percaya sama aku ya, maunya gimana? Tolong katakana apa yang kamu mau, mumpung aku lagi di sini, sebelum aku pergi lagi” Dia bertutur dengan sopan, tenang, namun itu menyakitkan bagi Nessa.
Nessa menarik oksigen dalam-dalam. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “ Ya Allah, ini salahku. Aku tidak mengerti apa yang menjadikan aku seperti ini. Hari ini penat pikiranku, penat banget. Dari pagi aku udah kena masalah yang membuat moodku semakin buruk. Maaf mungkin kamu udah jadi korban pelampiasan dari segala hingar binger masalah pribadiku yang menyesakkan aku hari ini”
“Jadi bagaimana sekarang? Apalah akhir adalah sebuah pilihan?” Dion meminta kepastian.
“Im tired, I feel so tired to having this long distance relationship, Im sorry” Nessa menutup matanya, berulang kali menggangti dan mencari posisi duduk yang nyaman.
“kamu mau berakhir? Kalau kamu udah gak sanggup aku juga gak bisa maksa. Sekarang semua keputusan ada di kamu”
“hahh, kenapa ribet banget rasanya. Iya mungkin akan lebih baik kalau kita berakhir sampai di sini. Ini akan lebih melegakan karena kita sama-sama lebih bebas melangkah untuk kedepannya. Setidaknya kita harus lebih dewasa nanti, walaupun langkah kaki yang kita setapakkan tak lagi sama, tak lagi seirama karena kita bukan lagi satu. Walaupun nanti kita udah putus, aku mau kita gak saling lupa. Aku mau kamu ingat aku sebagai bagian dari masa lalumu. Aku mau apa yang sudah kita alami ini bisa dijadikan pelajaran untuk kita berdua” seusai berkata-kata, Nessa lalu menatap ke luar jendela yang mulai lembab diguyur hujan.
“ entahlah, aku masih tak percaya kita berakhir seperti ini. Aku bener-bener gak percaya. Baiklah jika menurutmu itu yang terbaik”
“Antarkan aku pulang Dion, ini hampir malam. Kamu harus siap-siap untuk berangkat kan?”
“tapi Ness, ini masih hujan”
“Gak papa” Nessa memainkan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang.
Hari ini, mereka berjanji untuk saling menatap sebagai sepasang kekasih untuk terakhir kali. Hari ini, mereka saling berboncengan menerobos hujan deras sebagai sepasang kekasih untuk terakhir kali. Hari ini, kata-kata sayang yang selalu melantun dari balik komunikasi mereka nampaknya harus segera diganti, mereka bukan lagi sepasang kekasih, bukan lagi sepasang raga yang terikat menjadi satu jiwa. Mereka sudah berakhir.
benarkah kita sudah berpisah? Kenapa langkahmu masih mengikutiku dari belakang? Sangat dekat, bahkan. Aku tak pernah lupa bau harum napasmu itu. Yah bau harum napasmu yang seperti hidup memenuhi alam pikiranku. Pantas hadirmu selalu kudekap dalam jarak satu sentimeter. Benarkah kita berpisah? Rasanya ego dan kejenuhan telah memenangkan hatiku. Jadi, mengapa kisah kita seperti ini? Karena inilah yang Tuhan takdirkan? Sutradara atas segala kisah yang terjadi di bumi?” semua tulisan itu menutup lembaran akhir diary Nessa, semua mengakhiri kisah cinta yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Selamat jalan kekasih, manis yang berhujung perih. Semua berakhir sudah, meski kisah tak selamanya indah. Inilah skenarionya, Tuhan telah mengatur semua. Karena Tuhanlah sang sutradaranya.